• Call Us +62 21 5790 3535

Asei Fokus Garap Asuransi Keuangan

Bisnis Indonesia – PT Asuransi Asei Indonesia menargetkan layanan asuransi keuangan mampu mendominasi portofolio bisnis pada 2021. Fokus tersebut diambil untuk mengantisipasi pembentukan holding asuransi umum milik negara. Berikut petikan wawancara Bisnis dengan Plt. Direktur Utama PT Asuransi Asei Indonesia Riduan Simanjuntak:

Baqaimana portofolio bisnis Asei?
Asuransi nonkeuangan, yang kami kategorikan sebagai bisnis asuransi umum, porsinya masih 80%. Dari jumlah itu, sekitar 70% dari asuransi properti atau harta benda, 10%-15%
energi, khususnya oil and gas, dan sisanya masing-masing sebesar 5% dari marine cargo, marine hull dan liability.

Sedangkan, asuransi keuangan berkontribusi 20%. Ini secara khusus dibagi tiga, yakni asuransi kredit perdagangan, asuransi kredit, dan penjaminan. Asuransi kredit perdagangan sebenarnya merupakan metamorfosis dari asuransi ekspor, yang kami coba kembangkan. Jika dahulu esensi asuransi ekspor itu adalah kredit perdagangan luar negeri, maka sekarang disebut asuransi kredit perdagangan karena kami juga mau memproteksi perdagangan dalam negeri. Asuransi ini kami bagi empat jenis lagi, yakni
export credit insurance, domestic credit insurance, export bill insurance, dan domestic credit insurance financing.

Kemudian, asuransi kredit sifatnya memproteksi produk-produk perbankan secara umum, baik konsumtif, produktif maupun investasi. Lalu, produk penjaminan meliputi surety bond, kontra garansi bank dan lain-lain. Ketiga-tiganya kami pasarkan, tetapi memang sampai saat ini paling besar [kontribusinya] masih asuransi kredit sebab memang langsung terhubung dengan perbankan.

Menqapa memlllh berfokus ke asuransi keuanqan?
Pertama, memang karena pertimbangan historis. Kami sudah punya infrastruktur dan SDM yang cukup matang di bidang itu. Kedua, andaikan terjadi holding [BUMN asuransi umum], kami juga pertimbangkan, apakah bisa mengimbangi Jasindo [PT Asuransi Jasa Indonesia (Persero)] yang memang sejak awal dibesarkan di situ [bisnis asuransi umum]. Kami tidak mungkin saling bertarung, tetapi bersinergi antara BUMN. Tentu saja mesti ada fokus atau spesialisasi yang diambil masing-masing perusahaan.

Otomatis, kami mempertimbangkan performance kami di bisnis asuransi umum. Ekuitas
Asei pada awalnya bersumber dari asuransi keuangan. Kami mulai masuk di asuransi umum pada 2002, dan memang terjadi pertumbuhan, sampai belakangan ini tidak terlalu baik. lni yang mengakibatkan kami ingin shifting ke asuransi keuangan.

Tetapi, infrastruktur dan SDM di bidang asuransi umum juga tidak mungkin kami tinggalkan. Sebagian portofolio kami dibangun karena sinergi antara produk [keuangan dan non keuangan] tadi. Padahal, nasabah memilih kami karena seluruh risiko mereka bisa diproteksi.

Bagalmana target dan rencana Asel terkalt penyesuaian protofolio tersebut?
Kami targetkan pada 2021 sekitar 60% bisnis kami ada di asuransi keuangan. Kami sudah buat roadmap untuk mengantisipasi arah spesialisasi dalam pembentukan holding.

Mengubah portofolio bisnis sudah kami mulai sejak 2017 dan harapannya selesai pada 2021.

Pada tahun ini kami banyak melakukan kembali kerja sama dengan perbankan sebagai dampak dari perubahan nama perusahaan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi itu berdampak juga pada aspek legal kerja sama dengan perbankan. Mungkin, hasil kerja sama belum akan signifikan pada tahun ini atau tahun 2018, sehingga baru pada 2021 bisa optimal.