• Call Us +62 21 5790 3535

Putar Haluan, Kembali Ke Khitah

PT Asuransi Asei Indonesia merupakan anak perusahaan PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re yang didirikan pada tahun 2014. Jauh sebelumnya, PT Asuransi Asei Indonesia sudah hadir dan berkecimpung dalam dunia asuransi di Indonesia. “Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 1983 didirikan PT Asuransi Ekspor Indonesia (Persero) atau disingkat ASEI yang bergerak dalam bidang asuransi dan jaminan kredit ekspor untuk meningkatkan ekspor non-migas waktu itu,” terang M. Syamsudin Cholid, Direktur Teknik PT Asuransi Asei Indonesia.
Pada tahun 2000, beberapa kali World Trade Organization (WTO) melakukan protes ke Indonesia yang isinya Indonesia memproteksi eksportirnya dengan subsidi asuransi dan bunga kredit ekspor. Akhirnya pemerintah mencabut kebijakan tersebut, yang mengakibatkan ASEI kehilangan order dari pemerintah. Sejak saat itu kebutuhan akan asuransi ekspor menurun dan produk-produk ASEI lainnya juga turun. ASEI kemudian mengembangkan produk asuransi umum pada tahun 2002. “Seiring berjalannya waktu pada tahun 2013 produk asuransi umum lebih dominan dari pada produk asuransi keuangan yang menjadi cikal bakal berdirinya ASEI. Pemegang saham mengingatkan, ASEI harus kembali ke khitah bermain di asuransi keuangan,” cerita Cholid. Pada tahun yang sama, Kementerian BUMN menyiapkan perusahaan reasuransi nasional untuk mengatasi tingginya pembayaran premi reasuransi ke perusahaan luar negeri, ASEI dipilih untuk menjadi perusahaan reasuransi nasional. “ASEI bertransformasi menjadi PT Asei Reasuransi Indonesia (Persero) disingkat Asei Re. Pada tahun 2014 Asei Re mendirikan PT Asuransi Asei Indonesia untuk melaksanakan bisnis asuransi dan penjaminan
yang selama ini dijalankan oleh ASEI. Asei Re, pada tahun 2015 berubah nama menjadi PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau disingkat Indonesia Re,” papar Cholid.
Sesuai dengan amanat pemegang saham, Asuransi Asei Indonesia yang menjadi anak perusahaan Indonesia Re mengembangkan asuransi keuangan. Beragam asuransi ekspor dan asuransi penjaminan kredit dikemas dalam asuransi perdagangan seperti awal berdirinya ASEI.
Krisis status yang awalnya BUMN menjadi anak perusahaan BUMN sempat dialami oleh Asuransi Asei. Menurut Cholid, krisis status ini sempat mengacaukan kinerja perusahaan di tahap –tahap awal. “Dengan memberikan sosialisasi secara intens kepada pemangku kepentingan, pelan-pelan hal ini bisa diatasi, saat ini kondisinya sudah membaik,” katanya.
Kembalinya Asuransi Asei ke bisnis asuransi keuangan sudah dipersiapkan dengan matang. “Kita sudah mengedukasi jalur distribusi yang kita miliki untuk memasarkan asuransi keuangan. Kita selalu menggambarkan rate di premi asuransi umum itu kecil, cuma nol koma sekian persen sementara di asuransi keuangan ratenya bisa 0,8 persen, 1 persen bahkan ada yang 1,5 persen. Kita juga gencar melakukan kerja sama dengan Perbankan, Lembaga keuangan dan multifinance. Awal tahun 2017, Asuransi Asei langsung tancap gas menggarap asuransi keuangan,” ungkap Cholid.

Fokus Menggarap Asuransi Keuangan
Keseriusan Asuransi Asei ini berbuah manis. Hal ini bisa dilihat dari kinerja yang sudah dihasilkan per bulan Mei 2017, kinerja asuransi keuangan sudah naik 100 persen dibandingkan tahun 2016. “Tahun lalu, asuransi umum masih dominan, sebesar 80 persen sedangkan asuransi keuangan sebesar 20 persen. Sekarang hingga bulan Mei asuransi keuangan sudah naik menjadi 40 persen dan asuransi umum di angka 60 persen,” ungkap Cholid. Moncernya kinerja asuransi keuangan didukung oleh sekmen asuransi perdagangan, bank garansi dan penjaminan kredit.
“Hingga bulan Mei, Asuransi Asei sudah mencatatkan pendapatan sebesar 200 miliar dari target tahun ini sebesar 770 miliar. Kita optimis target ini bisa tercapai, karena tren di asuransi lebih besar di semester II,” ungkap Cholid. Asuransi Asei sudah mematok target komposisi asuransi keuangan dan asuransi umum imbang di tahun 2018, bahkan ditahun 2019 asuransi keuangan akan dominan dengan komposisi 60 berbanding 40.
Menurut Chalid, potensi di asuransi keuangan masih terbuka lebar. Proyek-proyek infrastuktur pemerintah sangat masif perlu penjaminan dan bank garansi yang jumlah proyeknya besar-besar. Gencarnya pembangunan proyek-proyek pemerintah membuat asuransi di sektor keuangan tumbuh pesat, tahun 2016 lalu pertumbuhan industri sekitar 150 persen. “Asuransi Asei mendukung financial insurance sehingga kebutuhan konraktor dan subkon bisa terpenuhi,” tambahnya.
Karena sudah fokus di asuransi keuangan, Asuransi Asei menurut Cholid tak pernah berhenti melakukan inovasi untuk meningkatkan kinerja. “Kita terus melakukan pengembangan produk asuransi keuangan karena banyak sekali produknya. Bulan Mei lalu, kita menerapkan sistem digital branch, dimana aktivitas underwriting, akseptasi yang biasa dilakukan di cabang ditarik ke pusat dengan menyiapkan teknologi. Hal ini dilakukan agar cabang-cabang fokus ke pasar, sebagian besar administrasi dialihkan ke pusat. Ini menyiapkan amunisi untuk menggempur pasar asuransi keuangan ke depan,” ulasnya. Sebagai anak perusahaan Indonesia Re, Asuransi Asei tahun ini akan ditambah modal oleh induknya sehingga kapasitas dan pendanaan akan menjadi lebih besar dan menambah daya saing. Dengan dukungan kantor cabang yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia, ketika wacana Holding BUMN asuransi terbentuk, Asuransi Asei sudah siap menjadi pemain asuransi keuangan khusunya perdagangan seperti visi perusahaan “Menjadi Perusahaan Asuransi Keuangan yang Terkemuka dan Terpercaya di Indonesia”. (BUMN Insight-Juli 2017).