Melihat Industri Asuransi secara Lebih Sistemik

  1. Home

  2. Newsroom

  3. Melihat Industri Asuransi secara Lebih Sistemik

Melihat Industri Asuransi secara Lebih Sistemik

13 April 2026

Melihat Industri Asuransi secara Lebih Sistemik

Direktur Utama PT Asuransi Asei Indonesia (Asuransi Asei) Achmad Sudiyar Dalimunthe mengemukakan, pengalamannya di berbagai bidang di industri asuransi membawanya untuk bisa melihat industri secara lebih sistemik. Bagaimana risiko terakumulasi, bagaimana kapasitas nasional dibangun, dan bagaimana interaksi dengan pasar global terjadi.

Kariernya di industri asuransi merupakan proses yang terbangun secara bertahap dari sisi teknis hingga kepemimpinan strategis. Ia memulai dari fungsi underwriting dan teknik di Asuransi Umum Bumiputera Muda (Bumida), kemudian Asuransi Jasa Tania (Jastan), yang memberikan pemahaman fundamental mengenai risk selection, pricing, dan sustainability portofolio.

Kemudian ia mendapatkan kesempatan untuk mengelola fungsi yang lebih luas, baik operasional, advisory, hingga kepemimpinan di perusahaan asuransi dan reasuransi nasional seperti Asuransi Sarana Lindung Upaya (SLU) dan Asuransi Binagriya Upakara (Binagriya). Pengalaman sebagai Direktur Utama di PT Reasuransi Nasional Indonesia menjadi titik penting karena di sanalah melihat industri secara sistemik.

Ia juga aktif di Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) dan Dewan Asuransi Indonesia (DAI), yang memberikan pemahaman terhadap perspektif kebijakan dan koordinasi industri.

Dengan kombinasi pengalaman teknis, operasional, dan asosiasi, ia melihat peran direktur utama bukan hanya sebagai pengelola perusahaan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem industri yang lebih besar. Menurutnya, peran tersebut merupakan tantangan tersendiri saat dipercaya memimpin Asuransi Asei.

Asuransi Asei adalah perusahaan asuransi yang merupakan anak perusahaan dari BUMN PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero), yang berfokus pada asuransi perdagangan, kredit, penjaminan, dan asuransi umum. Spesialisasi utamanya meliputi asuransi ekspor, kredit perdagangan, serta layanan asuransi syariah.

Fase Konsolidasi

Mengenai industri asuransi, Achmad Sudiyar berpendapat, industri asuransi Indonesia saat ini berada dalam fase konsolidasi dan transformasi, dimana proses rebalancing antara pertumbuhan dan penguatan fundamental sedang berproses.

Dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan premi masih relatif moderat, namun terdapat peningkatan kesadaran risiko, terutama pasca pandemi dan dinamika global. Di sisi lain juga ada tekanan klaim yang tinggi di beberapa lini, dinamika suku bunga, disrupsi digital serta meningkatnya risiko global.

Namun demikian ia melihat prospek industri ke depan tetap positif, yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi domestik yang stabil, peningkatan aktivitas perdagangan dan investasi, serta kebutuhan proteksi yang semakin kompleks.

Secara struktural, tambahnya, prospek industri tetap sangat menjanjikan. Setidaknya ada tiga pendorong utama, yakni underserved market dimana penetrasi asuransi Indonesia masih relatif rendah dibandingkan negara peers (negara yang setara), sehingga ruang ekspansi masih besar.

Kemudian ada economic deepening dimana pertumbuhan sektor riil, perdagangan, dan infrastruktur akan meningkatkan kebutuhan proteksi. Terakhir ada risk awareness dimana kesadaran masyarakat dan korporasi terhadap risiko semakin meningkat.

“Ke depan, industri akan bergerak dari sekadar growth berbasis volume menjadi quality growth, di mana profitabilitas, manajemen risiko, dan capital efficiency menjadi faktor utama”, katanya.

Tantangan Industri

Menurut Achmad Sudiyar, ada beberapa hal yang masih menjadi pekerjaan rumah industri asuransi, di antaranya adalah tantangan penetrasi pasar. Penetrasi asuransi yang masih rendah bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga struktural dan behavioral.

Ada beberapa tantangan utama, yakni literasi keuangan yang terbatas, persepsi negative terhadap asuransi, dan produk yang belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Solusinya membutuhkan pendekatan holistik, yakni dengan cara edukasi publik yang masif, inovasi produk yang lebih sederhana dan relevan serta pemanfaatan digital distribution.

Soal penetrasi pasar asuransi ini ia berpendapat perlunya merancang dengan baik program penjaminan polis. Program ini memiliki potensi strategis dalam memperkuat kepercayaan publik terhadap industri asuransi. Jika dirancang dengan baik, program ini dapat menjadi game changer bagi industri asuransi.

Hal lain adalah implementasi New Risk Based Capital (RBC) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurut dia, ini memang merupakan langkah maju menuju risk-based supervision yang lebih komprehensif, juga merupakan langkah strategis untuk membawa industri asuransi Indonesia menuju standar internasional yang lebih tinggi.

RBC adalah ukuran kesehatan keuangan perusahaan asuransi berdasarkan risiko yang ditanggungnya, seperti klaim, investasi, dan utang. Manfaat utama RBC adalah memastikan perusahaan memiliki cukup modal untuk melindungi nasabah dan tetap stabil dalam kondisi finansial yang berisiko.

Ia menandaskan bahwa industri asuransi pada prinsipnya siap. Namun membutuhkan penyesuaian model perhitungan risiko, penguatan sistem IT dan data governance, dan peningkatan kualitas SDM aktuaria dan risk management.

Perubahan Paradigma

Dalam pandangannya, pendekatan bertahap yang direncanakan OJK sudah tepat untuk meminimalisasi kejutan terhadap industri, mengingat kesiapan industri tidak homogen. New RBC ini bukan sekadar perubahan formula, tetapi perubahan paradigma menuju risk-sensitive capital framework.

Perusahaan besar relatif lebih siap dari sisi infrastruktur data, kapasitas aktuaria, dan sistem manajemen risiko. Sementara itu, perusahaan skala menengah dan kecil membutuhkan waktu dan dukungan untuk beradaptasi.

Dalam penerapan RBC ini ia melihat masih ada beberapa tantangan utama, antara lain kesenjangan kapasitas antar perusahaan, ketersediaan data historis yang memadai, dan kompleksitas model risiko.

Untuk itu, hal yang perlu diperhatikan dalam implementasi RBC ke depan meliputi capital strain yakni peningkatan kebutuhan modal, terutama untuk risiko-risiko tertentu. Kemudian data quality dan availability, karena model RBC sangat bergantung pada data yang kuat. Selain itu juga perlu memperhatikan technical capability, yakni kebutuhan akan aktuaria dan risk specialist yang kompeten.

“Selain itu, ada tantangan dalam memastikan bahwa implementasi RBC tidak menciptakan procyclicality, yaitu memperburuk kondisi saat siklus ekonomi melemah”, tutur alumnus S2 di Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.

Hadapi Risiko Global Berharap Peran OJK

Achmad Sudiyar berpendapat, industri asuransi saat ini berada dalam lingkungan risiko yang semakin kompleks, mulai dari konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, hingga volatilitas pasar keuangan. Ini adalah ukuran statistik seberapa besar dan cepat fluktuasi harga suatu aset atau pasar pada periode tertentu.

Dalam konteks ini, kebijakan OJK perlu mengedepankan macroprudential awareness. Selain itu juga mendorong perusahaan melakukan stress testing berbasis skenario ekstrem. Terakhir memberikan fleksibilitas kebijakan dalam kondisi extraordinary.

Untuk lini seperti marine cargo dan trade credit insurance, dinamika global sangat langsung berdampak terhadap underwriting risk. Oleh karena itu penguatan aspek market conduct merupakan langkah yang sangat positif dalam jangka panjang. Industri tidak bisa tumbuh tanpa trust.

Memang hal itu, menurutnya, akan memberikan dampak terhadap perusahaan. Akan ada peningkatan standar transparansi dan disclosure, penyesuaian proses bisnis dan distribusi, serta kenaikan biaya kepatuhan (compliance cost).

“Namun demikian, ini harus dilihat sebagai investment in trust, bukan sekadar beban regulasi”, jelasnya.

Harapan ke OJK

Achmad Sudiyar, yang saat ini sedang menyelesaikan S3 di Universitas Brawijaya. Berharap, pergantian kepemimpinan di OJK harus dilihat sebagai momentum untuk memperkuat arah transformasi sektor jasa keuangan.

Industri asuransi berharap kepemimpinan baru OJK dapat menjaga keseimbangan antara prudential regulation dan market development, mendorong inovasi tanpa mengorbankan stabilitas, dan memperkuat koordinasi lintas sektor.

Konsistensi kebijakan OJK yang sekarang dipimpin oleh Friderica Widyasari Dewi akan menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan pelaku industri. Menurut Achmad Sudiyar, setidaknya ada tiga ekspektasi utama yang diharapkan terhadap OJK.

Pertama, regulatory certainty dimana kesinambungan kebijakan sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor dan pelaku industri. Kedua, balanced approach yang menjaga keseimbangan antara prudential regulation dan market development.

Ketiga, forward-looking supervision yang merupakan pengawasan yang adaptif terhadap risiko baru, termasuk digital dan geopolitik.

“OJK ke depan diharapkan tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai enabler pertumbuhan industri”, ucapnya.

Momentum Pertumbuhan

Dijelaskannya juga, target pertumbuhan aset 5–7 persen pada 2026 merupakan target yang realistis, namun membutuhkan orkestrasi kebijakan yang tepat.

Oleh karena itu peran OJK menjadi krusial dalam menjaga stabilitas sistemik, terutama melalui penguatan risk-based supervision. Kemudian OJK juga perlu mendorong konsolidasi industri, untuk menciptakan pemain yang lebih kuat secara permodalan. Juga memberikan stimulus kebijakan, khususnya pada sektor-sektor produktif seperti ekspor, maritim, dan infrastruktur

Pendekatan yang terlalu ketat berpotensi menahan pertumbuhan, sementara pendekatan yang terlalu longgar berisiko terhadap stabilitas. Di sinilah pentingnya calibrated regulation.

Pemanfaatan teknologi seperti AI oleh OJK akan meningkatkan efektivitas pengawasan. Bagi industri, hal ini akan mendorong peningkatan kualitas data dan tata kelola perusahaan yang lebih transparan. Pada akhirnya, kebijakan yang adaptif, forward-looking, dan berbasis risiko akan menjadi fondasi utama dalam membangun industri asuransi yang sehat dan berkelanjutan. “Dengan pendekatan tersebut, industri asuransi Indonesia tidak hanya akan tumbuh secara domestik, tetapi juga memiliki daya saing di tingkat regional dan global”, ucapnya.

Sumber : Ditulis oleh Achmad Sudiyar Dalimunthe selaku Direktur Utama PT Asuransi Asei Indonesia dan dipublikasikan oleh Ekonomi Indonesia 11 April 2026

Author
Admin Asei

Email : humas@asei.co.id

Email: admin@asei.co.id