ASEI Teken Kerjasama dengan PT Perikanan Indonesia dan CV Bhumiagri Nawasena Perkasa

Jakarta, 10 April 2026 — PT Asuransi Asei Indonesia (ASEI) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan PT Perikanan Indonesia dan CV Bhumiagri Nawasena Perkasa di Gedung Kantor Perindo Jakarta. Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat keamanan, kepastian, dan keberlanjutan transaksi perdagangan, khususnya dalam mitigasi risiko kegagalan pembayaran atas transaksi domestik maupun ekspor. Penandatanganan perjanjian kerja sama ini dilakukan oleh Direktur Utama ASEI Achmad Sudiyar Dalimunthe, Direktur Utama Perikanan Indonesia Titik Mustikasar dan Direktur Utama  Bhumiagri Nawasena Perkasa Rully Prakasha. Penandatanganan MoU ini juga disaksikan oleh jajaran manajemen pada masing-masing perusahaan.

Melalui kesepahaman ini, ASEI menegaskan perannya sebagai mitra strategis bagi dunia usaha dalam menyediakan layanan proteksi asuransi perdagangan yang dapat mendukung kelancaran aktivitas bisnis para pelaku usaha. Adapun tujuan kerja sama ini meliputi pemberian perlindungan terhadap risiko kegagalan pembayaran, peningkatan keamanan dan keberlanjutan transaksi perdagangan, dukungan terhadap akses pembiayaan berbasis asuransi, serta peningkatan kepercayaan dalam rantai perdagangan domestik maupun ekspor.

Sebagai perusahaan Asuransi Umum yang memiliki spesialisasi pada Asuransi Perdagangan lebih dari 40 tahun, ASEI terus hadir memperkuat sinergi dan kerja sama dengan para pelaku usaha untuk terus bertumbuh serta dapat melakukan ekspansi bisnisnya ke berbagai wilayah dan negara dengan rasa aman. Penandatanganan ini diharapkan menjadi pijakan awal untuk membangun kolaborasi yang produktif dan memberikan nilai tambah bagi penguatan perdagangan nasional, khususnya di sektor perikanan dan produk turunannya.

Sinergitas dan kolaborasi ini diharapkan dapat berjalan secara optimal melalui pemanfaatan layanan proteksi perdagangan untuk mendukung kelancaran dan keamanan transaksi perdagangan yang dilakukan oleh Perikanan Indonesia dan Bhumiagri Nawasena Perkasa. Kerja sama ini juga mencerminkan sinergi antara sektor jasa keuangan dan sektor riil, khususnya industri perikanan dan perdagangan hasil perikanan. ASEI memandang bahwa penguatan mitigasi risiko transaksi perdagangan merupakan bagian penting dalam menciptakan ekosistem bisnis yang sehat, berkelanjutan, dan adaptif terhadap tantangan kedepan.

Direktur Utama ASEI, Achmad Sudiyar Dalimunthe, menyampaikan bahwa, “Penandatanganan Nota Kesepahaman ini merupakan bagian dari komitmen ASEI untuk menghadirkan solusi proteksi yang relevan bagi kebutuhan dunia usaha. Melalui proteksi asuransi perdagangan, kami ingin mendukung para pelaku usaha agar dapat menjalankan transaksi dengan lebih aman, memiliki kepastian yang lebih baik, serta memperkuat keberlanjutan bisnis, baik di pasar domestik maupun ekspor.”

Kolaborasi dengan Perikanan Indonesia dan Bhumiagri Nawasena Perkasa diharapkan dapat menjadi langkah konkret dalam memperkuat rantai perdagangan hasil perikanan dan membuka peluang pengembangan usaha yang lebih luas dengan dukungan mitigasi risiko yang memadai. Melalui pendekatan yang mengedepankan prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik, dan kebutuhan pasar, ASEI berkomitmen untuk terus mendukung terciptanya ekosistem bisnis yang lebih aman, sehat, dan berkelanjutan.

Ketika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel

Industri asuransi sedang menghadapi sebuah paradoks. Risiko dalam kehidupan ekonomi masyarakat makin luas, mulai dari kecelakaan, gagal bayar, gangguan usaha, hingga bencana alam, namun sebagian besar risiko tersebut justru belum terlindungi oleh asuransi. Pada saat yang sama, perusahaan asuransi menghadapi tantangan pertumbuhan premi yang makin kompetitif serta tekanan profitabilitas akibat ketidakpastian ekonomi global.

Paradoks ini menunjukkan satu kenyataan penting: risiko ada, pasar ada, tetapi model bisnis industri asuransi perlu berubah. Di era ekonomi digital dan risiko yang makin tersebar, penguatan asuransi ritel bukan lagi sekadar pilihan ekspansi bisnis, melainkan kebutuhan strategis untuk memperluas perlindungan masyarakat sekaligus menjaga ketahanan industri.

Selama bertahun-tahun, struktur premi industri asuransi, terutama asuransi umum, ditopang oleh segmen korporasi dan proyek bernilai besar. Model ini memang mampu menghasilkan premi besar dalam waktu relatif cepat. Namun pendekatan tersebut juga menciptakan konsentrasi risiko yang tinggi. Sementara itu, struktur ekonomi Indonesia justru didominasi oleh jutaan aktivitas ekonomi skala kecil. Lebih dari 60 juta UMKM menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Di luar itu, muncul pula kelas menengah baru, sektor informal yang luas, serta ekonomi digital berbasis transaksi harian. Artinya, risiko ekonomi nasional sebenarnya tersebar pada jutaan aktivitas kecil yang terjadi setiap hari. Jika industri asuransi tetap berfokus pada premi besar dari segmen korporasi, maka potensi pasar ritel yang sangat luas akan terus tidak tergarap.

Transformasi yang diperlukan adalah perubahan paradigma: dari mengejar premi besar menuju membangun basis nasabah yang besar. Portofolio ritel memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan portofolio korporasi. Premi per polis memang relatif kecil, namun jumlah polis sangat besar dan risiko lebih tersebar.

Dalam perspektif manajemen risiko, struktur seperti ini menciptakan diversifikasi risiko alami. Ketika terjadi tekanan pada sektor tertentu, misalnya konstruksi, energi, atau komoditas, maka portofolio ritel dapat menjadi penyangga terhadap fluktuasi kinerja industri. Dengan kata lain, ritel bukan hanya strategi pertumbuhan, tetapi juga strategi resiliensi industri asuransi.

Transformasi menuju ritel juga menuntut perubahan cara industri memandang profitabilitas. Dalam banyak sektor ritel modern, keuntungan tidak lagi bertumpu pada margin per transaksi, tetapi pada volume transaksi yang tinggi dan frekuensi interaksi dengan pelanggan.

Konsep ini dapat diterjemahkan dalam industri asuransi sebagai: premi kecil, jumlah polis besar, tingkat pembaruan tinggi, dan penetrasi multi-produk kepada nasabah. Keberhasilan perusahaan tidak lagi diukur dari berapa besar premi per polis, tetapi dari berapa banyak polis aktif dalam portofolio. Pendekatan ini membuka peluang bagi berbagai produk ritel seperti asuransi mikro, asuransi perjalanan digital, asuransi gadget, hingga proteksi kredit UMKM.

Perubahan perilaku konsumen juga mendorong transformasi cara distribusi asuransi. Konsumen modern tidak lagi mencari produk asuransi yang kompleks, tetapi proteksi yang sederhana, cepat, dan relevan dengan aktivitas sehari-hari.

Salah satu model yang berkembang pesat secara global adalah embedded insurance, yaitu integrasi asuransi langsung dalam transaksi digital seperti pembelian tiket perjalanan, pengiriman logistik, atau pembiayaan digital. Model ini mampu menurunkan biaya akuisisi nasabah sekaligus meningkatkan volume polis secara signifikan. Selain itu, berbagai inovasi lain juga mulai berkembang, seperti: subscription insurance dengan premi bulanan kecil; parametric micro insurance berbasis data; dan ecosystem-based insurance dalam rantai pasok perdagangan

Distribusi asuransi di masa depan tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari ekosistem aktivitas ekonomi masyarakat. Model bisnis berbasis volume tentu tidak akan berhasil tanpa perubahan besar dalam operating model industri. Dalam industri asuransi, efisiensi operasional sangat ditentukan oleh proses underwriting, penerbitan polis, dan pengelolaan klaim. Karena itu, digitalisasi menjadi fondasi utama melalui berbagai inovasi seperti: automated underwriting; digital policy issuance; straight-through processing; dan pemanfaatan data analytics untuk penilaian risiko.

Tanpa transformasi operasional, peningkatan volume polis justru berisiko meningkatkan biaya operasional dan menekan profitabilitas perusahaan.

Transformasi menuju ritel sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Penetrasi asuransi nasional masih berada di kisaran 2%–3% terhadap produk domestik bruto (PDB), jauh di bawah banyak negara lain di Asia. Pada saat yang sama, ekonomi Indonesia ditopang oleh jutaan UMKM yang membutuhkan proteksi risiko sederhana namun luas. Digitalisasi juga membuka peluang distribusi yang jauh lebih efisien melalui platform teknologi, marketplace, fintech, serta ekosistem perdagangan.

Dengan kombinasi faktor tersebut, potensi pertumbuhan asuransi ritel di Indonesia masih sangat besar. Pelajaran terpenting dari transformasi ritel modern adalah bahwa keunggulan kompetitif tidak lagi hanya berasal dari produk, tetapi dari arsitektur sistem bisnis yang scalable.

Dalam industri asuransi, perubahan tersebut tercermin pada pergeseran paradigma: margin per polis menjadi volume portofolio; distribusi tradisional menjadi ekosistem digital; produk kompleks menjadi produk sederhana; dan proses  manual  menjadi  proses otomatis.

Di tengah peluang besar pengembangan asuransi ritel, industri juga sedang menghadapi fase transformasi regulasi yang tidak ringan. Salah satu agenda penting adalah penguatan struktur permodalan perusahaan asuransi yang terus didorong oleh regulator.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menetapkan kebijakan peningkatan modal minimum perusahaan asuransi, yang bertujuan memperkuat ketahanan industri serta meningkatkan kapasitas perusahaan dalam menyerap risiko. Kebijakan ini penting untuk memastikan bahwa perusahaan asuransi memiliki fondasi keuangan yang cukup kuat dalam menghadapi dinamika risiko global yang semakin kompleks.

Namun di sisi lain, kebijakan tersebut juga menghadirkan tantangan tersendiri bagi sebagian perusahaan asuransi, terutama yang memiliki skala usaha relatif kecil. Konsolidasi industri, penguatan permodalan, serta efisiensi model bisnis menjadi agenda yang tidak terelakkan. Dalam konteks ini, strategi pengembangan bisnis ritel berbasis volume justru dapat menjadi salah satu solusi struktural. Portofolio ritel yang luas mampu menciptakan diversifikasi risiko yang lebih baik serta menghasilkan aliran premi yang lebih stabil dalam jangka panjang.

Selain isu permodalan, industri juga sedang memasuki era baru dalam pelaporan keuangan dengan diberlakukannya standar akuntansi PSAK 117, yang mengadopsi prinsip internasional IFRS 17.

Standar ini membawa perubahan mendasar dalam cara perusahaan asuransi mengakui pendapatan, mengukur kewajiban kontrak asuransi, serta menilai profitabilitas portofolio. Jika sebelumnya kinerja industri lebih banyak tercermin dari pertumbuhan premi, maka ke depan fokus analisis akan bergeser pada kualitas portofolio, profitabilitas kontrak, serta manajemen risiko jangka panjang.

Penerapan standar baru menuntut perusahaan asuransi untuk memperkuat kapabilitas data, sistem aktuaria, serta infrastruktur teknologi informasi. Dengan kata lain, transformasi digital yang sebelumnya dipandang sebagai kebutuhan operasional kini menjadi prasyarat utama untuk memenuhi standar transparansi dan tata kelola industri yang semakin tinggi.

Dalam perspektif yang lebih luas, penguatan permodalan dan penerapan standar akuntansi baru sebenarnya merupakan bagian dari proses pendewasaan industri asuransi nasional. Regulasi yang lebih kuat akan mendorong konsolidasi, meningkatkan disiplin manajemen risiko, serta memperkuat kepercayaan publik terhadap industri asuransi. Pada akhirnya, masa depan industri asuransi tidak lagi hanya ditentukan oleh seberapa besar satu polis yang dijual, tetapi oleh seberapa luas perlindungan yang dapat diberikan kepada masyarakat sekaligus seberapa kuat fondasi industri itu sendiri.

Transformasi menuju model ritel berbasis volume, didukung oleh digitalisasi, penguatan permodalan, serta standar tata kelola lebih tinggi, seperti penerapan PSAK 117, akan menjadi kunci bagi industri asuransi Indonesia untuk tumbuh lebih inklusif dan berkelanjutan. Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional. Dan di situlah peran strategis industri asuransi menemukan maknanya yang paling mendasar.

Sumber : Ditulis oleh Achmad Sudiyar Dalimunthe selaku Direktur Utama PT Asuransi Asei Indonesia dan dipublikasikan oleh Investor Daily 4-5 April 2026

PT Asuransi Asei Indonesia Luncurkan Produk Asuransi Retail, Perluas Akses Perlindungan Masyarakat

Jakarta, 2 April 2026 – PT Asuransi Asei Indonesia secara resmi menyelenggarakan acara Launching & Talkshow Asuransi Retail sebagai bagian dari komitmen perusahaan dalam memperluas akses perlindungan asuransi bagi masyarakat Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid, bertempat di Menara Kadin Indonesia Lantai 21, Jakarta, serta diikuti secara daring oleh seluruh pegawai, agen, dan mitra kerja di seluruh Indonesia.

Acara dibuka dengan rangkaian seremoni peluncuran produk retail yang dilanjutkan dengan pemaparan produk serta talkshow interaktif yang menghadirkan Direksi Asuransi Asei yaitu Dody Dalimunthe selaku Direktur Utama dan Agus Sulih Purwanto selaku Direktur Operasional & Pengembangan Bisnis. Dalam kesempatan tersebut, manajemen Asei menegaskan bahwa peluncuran produk retail ini merupakan langkah strategis perusahaan dalam menjawab kebutuhan perlindungan masyarakat yang semakin dinamis.

Melalui pengembangan produk yang lebih sederhana, relevan, mudah diakses, dan di dukung dengan digitalisasi, Asei berupaya meningkatkan literasi serta inklusi asuransi, khususnya di segmen retail. Pada acara ini, Asei memperkenalkan beberapa produk baru sebagai berikut:

  1. myAsei Pelajar – perlindungan untuk pelajar
  2. myAsei Griya – perlindungan properti hunian
  3. myAsei Pesona – solusi perlindungan personal
  4. myAsei Travel – perlindungan perjalanan
  5. myAsei Oto 2 & Oto 4 – perlindungan kendaraan bermotor


Produk-produk tersebut dirancang untuk memberikan perlindungan yang fleksibel, terjangkau, mudah diakses serta sesuai dengan kebutuhan berbagai segmen masyarakat.


Seiring meningkatnya eksposur risiko, perusahaan asuransi melakukan penyesuaian strategi melalui kalibrasi ulang portofolio, termasuk pembatasan pada risiko tertentu seperti risiko perang serta penyesuaian premi yang lebih mencerminkan tingkat risiko aktual. Di sisi lain, upaya mitigasi juga dilakukan dengan mendorong diversifikasi jalur distribusi dan pengalihan rute perdagangan guna menghindari wilayah berisiko tinggi.

Dengan hadirnya lini produk retail ini, Asei berharap dapat menjadi mitra terpercaya bagi masyarakat dalam menghadapi berbagai risiko kehidupan.

Perlindungan yang tepat hari ini, menjadi fondasi keamanan finansial di masa depan.

Asuransi di Tengah Gejolak Geopolitik

PT Asuransi Asei Indonesia (ASEI) hadir dalam program Nusantara Economic Update di Nusantara TV 30 Maret 2026, dengan mengangkat tema “Dampak Perang Timur Tengah Terhadap Industri Asuransi Umum”. Dalam kesempatan ini, Direktur Utama ASEI, Dody Dalimunthe memaparkan pandangan strategis terkait dinamika industri asuransi di tengah gejolak geopolitik.

Dinamika geopolitik global yang terus berkembang, khususnya konflik di kawasan strategis seperti Timur Tengah, memberikan dampak signifikan terhadap berbagai sektor ekonomi, termasuk industri asuransi. Ketegangan yang terjadi di jalur perdagangan utama dunia telah meningkatkan kompleksitas risiko, terutama pada sektor transportasi laut dan perdagangan internasional.

Dalam kondisi ini, industri asuransi menghadapi tantangan berupa meningkatnya potensi klaim, gangguan rantai pasok, serta fluktuasi nilai tukar yang berdampak pada transaksi lintas negara. Risiko tidak hanya terbatas pada kerusakan fisik atas kargo dan kapal, tetapi juga mencakup risiko finansial seperti keterlambatan pembayaran hingga pembatasan transfer dana di negara tujuan.


Seiring meningkatnya eksposur risiko, perusahaan asuransi melakukan penyesuaian strategi melalui kalibrasi ulang portofolio, termasuk pembatasan pada risiko tertentu seperti risiko perang serta penyesuaian premi yang lebih mencerminkan tingkat risiko aktual. Di sisi lain, upaya mitigasi juga dilakukan dengan mendorong diversifikasi jalur distribusi dan pengalihan rute perdagangan guna menghindari wilayah berisiko tinggi.

Dalam konteks perdagangan internasional, peran asuransi perdagangan menjadi semakin penting dalam memberikan perlindungan terhadap risiko gagal bayar serta ketidakpastian kondisi ekonomi dan politik global. Sebagai perusahaan asuransi yang memiliki fokus pada asuransi perdagangan, ASEI secara aktif mendukung pelaku ekspor nasional melalui penyediaan solusi proteksi yang komprehensif, sekaligus menghadirkan informasi risiko berbasis data untuk membantu pengambilan keputusan bisnis yang lebih tepat.

Industri asuransi nasional tetap memiliki peluang pertumbuhan yang besar. Tingkat penetrasi asuransi di Indonesia yang masih relatif rendah menunjukkan adanya ruang ekspansi yang signifikan, khususnya pada segmen ritel. Oleh karena itu, transformasi strategi menjadi langkah penting, termasuk dengan memperluas portofolio ke produk-produk yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat, seperti asuransi kesehatan, kendaraan, dan perlindungan individu lainnya.

Selain itu, akselerasi digitalisasi menjadi faktor kunci dalam meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas layanan. Pemanfaatan teknologi dan analitik data memungkinkan perusahaan asuransi untuk melakukan penilaian risiko secara lebih akurat, sekaligus memberikan kemudahan akses bagi nasabah dalam pembelian polis maupun pengajuan klaim.

Bagi ASEI, industri asuransi tidak hanya berperan sebagai penyedia perlindungan, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam manajemen risiko dan penggerak pertumbuhan ekonomi. Dengan strategi yang tepat serta pendekatan yang adaptif dan inovatif, ASEI optimistis dapat terus mendukung aktivitas perdagangan nasional serta memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global yang penuh tantangan.

Power Lunch Money Talks CNBC Indonesia: Prospek Bisnis di Tengah Ujian Geopolitik

PT Asuransi Asei Indonesia turut mengambil bagian dalam program Power Lunch – Money Talks CNBC Indonesia, 26 Maret 2026, dengan mengangkat tema “Prospek Bisnis di Tengah Ujian Geopolitik”. Dalam kesempatan ini, Direktur Utama Asei memaparkan pandangan strategis terkait dinamika industri asuransi umum di tengah ketidakpastian global.

Di tengah meningkatnya tensi geopolitik, industri asuransi tetap menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Hal ini tercermin dari peningkatan pendapatan premi baru pada sektor asuransi umum dan reasuransi komersial dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, tantangan global tetap menjadi faktor yang perlu diantisipasi secara cermat.

Asei terus memperkuat posisinya sebagai spesialis dalam Asuransi Perdagangan dan juga terus mendorong pengembangan bisnis segmen ritel. Selain itu, Asei juga berkomitmen untuk menjadi risk management partner bagi nasabah, tidak hanya sebagai penyedia proteksi, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam menghadapi risiko bisnis.


Seiring dengan perkembangan teknologi, penguatan digitalisasi menjadi salah satu enabler yang terus didorong dalam upaya peningkatan kualitas layanan kepada nasabah.

Asei juga menegaskan komitmennya untuk terus adaptif, inovatif, dan berperan dalam mendukung pertumbuhan industri asuransi nasional di tengah dinamika global yang terus berkembang.

Halal Bihalal Idul Fitri 1447H : Mempererat Silaturahmi dan Kebersamaan

Dalam suasana penuh kebersamaan pasca Hari Raya Idul Fitri 1447 H, seluruh jajaran manajemen dan karyawan PT Asuransi Asei Indonesia melaksanakan kegiatan Halal Bihalal sebagai wujud mempererat silaturahmi dan memperkuat sinergi antar insan perusahaan.

Kegiatan yang berlangsung dengan hangat ini menjadi momentum untuk saling memaafkan, memperkuat hubungan kerja, serta menumbuhkan semangat baru dalam menghadapi tantangan ke depan. Dengan nuansa kekeluargaan yang kental, seluruh karyawan turut berpartisipasi dalam rangkaian acara yang sederhana namun penuh makna.


Melalui kegiatan ini, PT Asuransi Asei Indonesia berharap nilai-nilai kebersamaan, saling menghargai, dan kolaborasi dapat terus terjaga serta menjadi landasan dalam memberikan kinerja terbaik bagi perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan.


Semoga semangat Idul Fitri membawa energi positif untuk terus melangkah maju, meningkatkan profesionalisme, dan memperkuat komitmen dalam memberikan layanan terbaik.

✨ Ramadhan Reflection: Upgrade Iman, Upgrade Diri ✨

Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan 1447 H, PT Asuransi Asei Indonesia menyelenggarakan rangkaian kegiatan Ramadhan ASEI 2026 yang mengusung tema “Ramadhan Reflection: Upgrade Iman, Upgrade Diri.” Kegiatan ini menjadi momentum bagi seluruh insan ASEI untuk memperkuat nilai spiritual, mempererat kebersamaan, serta menumbuhkan semangat positif di lingkungan kerja.

Rangkaian semarak Ramadhan Asei 1447 H terdiri dari beberapa kegiatan diantaranya Shalat Dzuhur berjamaah dan Kultum ramadhan serta Kring Ramadhan, Scrapbook, Ranking Wahid, Live Cooking Takjil Competition, Karaoke Religi Competition dan Photobox Best Costume Ramadhan.


Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan Buka Puasa Bersama seluruh pegawai yang dilaksanakan pada Rabu, 11 Maret 2026 di Menara Kadin Lt. 22 dengan rangkaian Sambutan Manajemen, Pembacaan Ayat Suci, pengumuman pemenang lomba, dan Tausiyah Ramadhan oleh Ust. Satria Hibatal Azizy, S.H.I., M.Ec. sebagai refleksi spiritual serta pesan-pesan inspiratif tentang makna Ramadhan, pentingnya meningkatkan kualitas iman, serta menjaga nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian di lingkungan kerja maupun kehidupan sehari-hari.

Momen ini menjadi kebersamaan bagi seluruh insan ASEI untuk mempererat silaturahmi, membangun hubungan yang lebih hangat antar karyawan, serta memperkuat rasa kekeluargaan di lingkungan perusahaan.


Diharapkan semangat Ramadhan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh insan ASEI untuk terus meningkatkan kualitas diri, memperkuat nilai kebersamaan, serta menghadirkan energi positif dalam menjalankan peran dan tanggung jawab profesional.

Semoga keberkahan Ramadhan senantiasa menyertai langkah kita semua.

ASEI Dorong Mitigasi Risiko Ekspor Melalui Edukasi Asuransi dalam Forum “Bersapa Ekspor” di Bandung

Bandung, 5 Maret 2026 – PT Asuransi ASEI Indonesia (ASEI) berpartisipasi sebagai narasumber dalam kegiatan “Bersapa Ekspor” (Berdialog Seputar Pembiayaan Ekspor) yang diselenggarakan oleh Direktorat Fasilitasi Ekspor dan Impor, Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia di Aston Tropicana Hotel Bandung, Kamis (5/3)

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mendorong peningkatan ekspor nasional, khususnya bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) berorientasi ekspor. Forum ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), PT Asuransi ASEI Indonesia, pemerintah daerah, serta para pelaku usaha eksportir

Dalam kesempatan tersebut, ASEI menyampaikan materi mengenai pemanfaatan asuransi ekspor sebagai instrumen mitigasi risiko dalam kegiatan perdagangan internasional. Melalui perlindungan asuransi ekspor, pelaku usaha dapat mengantisipasi berbagai risiko, seperti gagal bayar dari pembeli luar negeri, risiko negara, maupun ketidakpastian dalam transaksi perdagangan internasional.

ASEI menegaskan bahwa keberadaan asuransi ekspor menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberlanjutan aktivitas ekspor. Dengan perlindungan yang tepat, eksportir dapat menjalankan transaksi perdagangan dengan lebih aman dan percaya diri, sekaligus memperluas jangkauan pasar ke berbagai negara tujuan ekspor.

ASEI menegaskan bahwa keberadaan asuransi ekspor menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberlanjutan aktivitas ekspor. Dengan perlindungan yang tepat, eksportir dapat menjalankan transaksi perdagangan dengan lebih aman dan percaya diri, sekaligus memperluas jangkauan pasar ke berbagai negara tujuan ekspor.

Forum “Bersapa Ekspor” juga menjadi ruang dialog antara pelaku usaha dengan lembaga pembiayaan dan institusi pendukung ekspor. Selain pembahasan mengenai asuransi ekspor, kegiatan ini juga memaparkan berbagai skema pembiayaan ekspor melalui Program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) serta peluang akses pasar internasional, termasuk pasar Vietnam.

ASEI menyambut baik penyelenggaraan forum ini sebagai bagian dari sinergi antara pemerintah, lembaga pembiayaan, dan industri asuransi dalam memperkuat ekosistem ekspor nasional. Ke depan, ASEI akan terus berperan aktif dalam memberikan solusi perlindungan risiko bagi para eksportir Indonesia agar mampu menjalankan kegiatan perdagangan internasional secara berkelanjutan dan berdaya saing.

Selat Hormuz di Tengah Badai:Apa Artinya bagi Eksportir Indonesia?

Konflik Iran israel AS yang belum pernah terjadi sebelumnya telah menjadikan Selat Hormuz sebagai titik ziarah risiko dunia. Bagi eksportir dan importir Indonesia, ini bukan sekadar berita ini adalah alarm manajemen risiko.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer berskala besar dan berkelanjutan terhadap Iran  menargetkan infrastruktur militer, fasilitas intelijen, hingga lokasi kepemimpinan senior. Iran merespons dengan serangan rudal dan drone ke Israel dan posisi-posisi AS di beberapa negara tetangga, termasuk pelabuhan, bandara, dan infrastruktur sipil kawasan Teluk.

Di tengah eskalasi ini, satu nama muncul sebagai variabel paling kritis dalam rantai pasok energi global: Selat Hormuz. Bagi Indonesia  sebagai negara yang bergantung pada impor minyak dan memiliki basis ekspor komoditas yang aktif ke kawasan Asia dan Timur Tengah perkembangan ini memiliki implikasi nyata yang perlu dipahami secara serius.

Mengapa Selat Hormuz adalah Jantung Krisis ini ?

Selat Hormuz bukan sekadar jalur air sempit di antara Iran dan Semenanjung Arab. Ia adalah koridor energi terpenting di muka bumi  sekitar 20% pasokan minyak dunia dan 30% LNG global mengalir setiap harinya melalui perairan selebar 33–60 kilometer itu. Ketika pejabat Iran secara terbuka menyatakan bahwa Selat telah ditutup dan mengancam akan menyerang kapal yang melintas, perusahaan pelayaran dan energi besar pun menghentikan operasi secara sepihak  menciptakan penutupan efektif yang langsung mengguncang pasar energi global.

Dampak langsung sudah dirasakan: ruang udara kawasan Teluk dibatasi, penerbangan dialihkan, dan transit maritim melambat. Bagi rantai pasok yang mengandalkan sistem just-in-time  terutama elektronik dan komponen otomotif  perubahan ini berarti waktu transit lebih lama, biaya lebih tinggi, dan tekanan modal kerja yang signifikan.

Dua Skenario yang perlu diantisipasi Berdasarkan analisis Atradius yang kami rujuk dan kontekstualisasikan untuk kepentingan pelaku usaha Indonesia, terdapat dua skenario utama yang membentuk lanskap risiko ke depan:

Skenario Dasar:

Konfklik Singkat, Resolusi Bertahap

  • Konflik berlangsung beberapa hari hingga beberapa minggu
  • Harga minyak menyentuh $80–$90/barel
  • Dampak pada ekonomi Teluk terbatas (~0,5% poin pertumbuhan)
  • Kembali ke jalur diplomatik dan negosiasi nuklir
  • Dampak ekonomi global relatif terkendali

Skenario Terburuk:

Eskalasi berkepanjangan dan Destruktif

  • Serangan milisi proksi meluas ke fasilitas energi Teluk
  • Harga minyak melonjak ke $130–$140/barel
  • Bahrain menghadapi tekanan fiskal akut pertama
  • Tiongkok dan India — pembeli energi terbesar — terdampak langsung
  • Gangguan rantai pasok global yang persisten

Siapa yang paling Rentan

Tingkat kerentanan terhadap krisis Hormuz bervariasi signifikan berdasarkan struktur ekonomi dan ketergantungan energi masing-masing negara. Berikut peta singkat paparan risiko yang relevan bagi eksportir dan importir Indonesia:

Dampak Nyata bagi Industri Asuransi Perdagangan

Krisis Selat Hormuz bukan hanya fenomena geopolitik  ini adalah peristiwa risiko yang langsung menyentuh portofolio asuransi kredit ekspor dan asuransi perdagangan. Berikut dimensi-dimensi utama yang perlu mendapat perhatian:

  • Risiko Kredit Ekspor Meningkat Buyer di kawasan Teluk dan Asia yang bergantung pada energi menghadapi tekanan likuiditas dari kenaikan biaya impor energi. Kapasitas pembayaran mereka bisa tergerus, terutama jika konflik berlanjut melampaui beberapa minggu.
  • Klaim Keterlambatan & Force Majeure Gangguan pada jalur pelayaran dan penutupan ruang udara membuka potensi klaim berbasis force majeure pada kontrak perdagangan. Eksportir perlu memeriksa klausul force majeure dalam polis mereka.
  • Lonjakan Premi Marine & War Risk Underwriter asuransi marine global kemungkinan besar akan merevisi tarif premi untuk rute Teluk dan Samudra Hindia bagian barat. Ini langsung mempengaruhi biaya logistik eksportir yang menggunakan asuransi pengiriman.
  • Repricing Risiko Negara Rating risiko negara untuk Iran, Bahrain, Qatar, dan negara-negara tetangga kemungkinan akan direvisi. Hal ini mempengaruhi syarat dan kondisi pemberian cover asuransi kredit ekspor ke negara-negara tersebut. Pentingnya Political Risk Cover Kejadian ini menjadi pengingat keras bahwa risiko politik yang sering diabaikan dalam kondisi normal  bisa terwujud cepat dan masif. Political risk insurance bukan lagi produk “berjaga-jaga”; ini adalah kebutuhan strategis bagi eksportir yang aktif di kawasan volatil.

Apa yang harus dilakukan eksportir indonesia sekarang ?

ASEI merekomendasikan langkah-langkah antisipatif berikut bagi pelaku usaha yang memiliki eksposur terhadap kawasan Timur Tengah dan mitra dagang di Asia yang bergantung pada energi Teluk:

  • Review Portopolio Buyer

Identifikasi buyer yang berlokasi di atau sangat bergantung pada kawasan Teluk. Evaluasi ulang batas kredit dan persyaratan pembayaran untuk mereka.

  • Periksa Klausula Polis Anda

Pastikan polis asuransi perdagangan Anda mencakup risiko politik dan force majeure. Hubungi ASEI untuk konsultasi coverage yang sesuai kondisi terkini.

  • Diversifikasi Rute Logistik

Pertimbangkan alternatif rute pengiriman yang tidak bergantung pada Selat Hormuz untuk pengiriman ke pasar Asia Timur dan Eropa.

  • Pantau Perkembangan Secara Aktif

Ikuti update risiko dari ASEI dan lembaga-lembaga terpercaya. Situasi dapat berubah cepat; keputusan bisnis perlu didasarkan pada informasi terkini.

Krisisi adalah Pelajaran Hidup Manajemen Risiko

Krisis Selat Hormuz 2026 adalah demonstrasi nyata betapa cepatnya risiko geopolitik yang tampak jauh dan abstrak dapat berubah menjadi gangguan operasional dan finansial yang konkret. Bagi ekosistem perdagangan Indonesia, ini adalah momen untuk memperkuat fondasi manajemen risiko: bukan hanya ketika badai sudah datang, tetapi jauh sebelumnya.

ASEI berkomitmen untuk terus menyediakan analisis risiko yang relevan, perlindungan yang tepat, dan pendampingan yang responsif agar pelaku ekspor-impor Indonesia dapat bergerak dengan keyakinan, bahkan di tengah ketidakpastian global.

Untuk konsultasi lebih lanjut mengenai coverage asuransi kredit ekspor dan political risk, hubungi tim ASEI terdekat atau kunjungi portal layanan kami.