Selat Hormuz di Tengah Badai:Apa Artinya bagi Eksportir Indonesia?

Konflik Iran israel AS yang belum pernah terjadi sebelumnya telah menjadikan Selat Hormuz sebagai titik ziarah risiko dunia. Bagi eksportir dan importir Indonesia, ini bukan sekadar berita ini adalah alarm manajemen risiko.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer berskala besar dan berkelanjutan terhadap Iran  menargetkan infrastruktur militer, fasilitas intelijen, hingga lokasi kepemimpinan senior. Iran merespons dengan serangan rudal dan drone ke Israel dan posisi-posisi AS di beberapa negara tetangga, termasuk pelabuhan, bandara, dan infrastruktur sipil kawasan Teluk.

Di tengah eskalasi ini, satu nama muncul sebagai variabel paling kritis dalam rantai pasok energi global: Selat Hormuz. Bagi Indonesia  sebagai negara yang bergantung pada impor minyak dan memiliki basis ekspor komoditas yang aktif ke kawasan Asia dan Timur Tengah perkembangan ini memiliki implikasi nyata yang perlu dipahami secara serius.

Mengapa Selat Hormuz adalah Jantung Krisis ini ?

Selat Hormuz bukan sekadar jalur air sempit di antara Iran dan Semenanjung Arab. Ia adalah koridor energi terpenting di muka bumi  sekitar 20% pasokan minyak dunia dan 30% LNG global mengalir setiap harinya melalui perairan selebar 33–60 kilometer itu. Ketika pejabat Iran secara terbuka menyatakan bahwa Selat telah ditutup dan mengancam akan menyerang kapal yang melintas, perusahaan pelayaran dan energi besar pun menghentikan operasi secara sepihak  menciptakan penutupan efektif yang langsung mengguncang pasar energi global.

Dampak langsung sudah dirasakan: ruang udara kawasan Teluk dibatasi, penerbangan dialihkan, dan transit maritim melambat. Bagi rantai pasok yang mengandalkan sistem just-in-time  terutama elektronik dan komponen otomotif  perubahan ini berarti waktu transit lebih lama, biaya lebih tinggi, dan tekanan modal kerja yang signifikan.

Dua Skenario yang perlu diantisipasi Berdasarkan analisis Atradius yang kami rujuk dan kontekstualisasikan untuk kepentingan pelaku usaha Indonesia, terdapat dua skenario utama yang membentuk lanskap risiko ke depan:

Skenario Dasar:

Konfklik Singkat, Resolusi Bertahap

  • Konflik berlangsung beberapa hari hingga beberapa minggu
  • Harga minyak menyentuh $80–$90/barel
  • Dampak pada ekonomi Teluk terbatas (~0,5% poin pertumbuhan)
  • Kembali ke jalur diplomatik dan negosiasi nuklir
  • Dampak ekonomi global relatif terkendali

Skenario Terburuk:

Eskalasi berkepanjangan dan Destruktif

  • Serangan milisi proksi meluas ke fasilitas energi Teluk
  • Harga minyak melonjak ke $130–$140/barel
  • Bahrain menghadapi tekanan fiskal akut pertama
  • Tiongkok dan India — pembeli energi terbesar — terdampak langsung
  • Gangguan rantai pasok global yang persisten

Siapa yang paling Rentan

Tingkat kerentanan terhadap krisis Hormuz bervariasi signifikan berdasarkan struktur ekonomi dan ketergantungan energi masing-masing negara. Berikut peta singkat paparan risiko yang relevan bagi eksportir dan importir Indonesia:

Dampak Nyata bagi Industri Asuransi Perdagangan

Krisis Selat Hormuz bukan hanya fenomena geopolitik  ini adalah peristiwa risiko yang langsung menyentuh portofolio asuransi kredit ekspor dan asuransi perdagangan. Berikut dimensi-dimensi utama yang perlu mendapat perhatian:

  • Risiko Kredit Ekspor Meningkat Buyer di kawasan Teluk dan Asia yang bergantung pada energi menghadapi tekanan likuiditas dari kenaikan biaya impor energi. Kapasitas pembayaran mereka bisa tergerus, terutama jika konflik berlanjut melampaui beberapa minggu.
  • Klaim Keterlambatan & Force Majeure Gangguan pada jalur pelayaran dan penutupan ruang udara membuka potensi klaim berbasis force majeure pada kontrak perdagangan. Eksportir perlu memeriksa klausul force majeure dalam polis mereka.
  • Lonjakan Premi Marine & War Risk Underwriter asuransi marine global kemungkinan besar akan merevisi tarif premi untuk rute Teluk dan Samudra Hindia bagian barat. Ini langsung mempengaruhi biaya logistik eksportir yang menggunakan asuransi pengiriman.
  • Repricing Risiko Negara Rating risiko negara untuk Iran, Bahrain, Qatar, dan negara-negara tetangga kemungkinan akan direvisi. Hal ini mempengaruhi syarat dan kondisi pemberian cover asuransi kredit ekspor ke negara-negara tersebut. Pentingnya Political Risk Cover Kejadian ini menjadi pengingat keras bahwa risiko politik yang sering diabaikan dalam kondisi normal  bisa terwujud cepat dan masif. Political risk insurance bukan lagi produk “berjaga-jaga”; ini adalah kebutuhan strategis bagi eksportir yang aktif di kawasan volatil.

Apa yang harus dilakukan eksportir indonesia sekarang ?

ASEI merekomendasikan langkah-langkah antisipatif berikut bagi pelaku usaha yang memiliki eksposur terhadap kawasan Timur Tengah dan mitra dagang di Asia yang bergantung pada energi Teluk:

  • Review Portopolio Buyer

Identifikasi buyer yang berlokasi di atau sangat bergantung pada kawasan Teluk. Evaluasi ulang batas kredit dan persyaratan pembayaran untuk mereka.

  • Periksa Klausula Polis Anda

Pastikan polis asuransi perdagangan Anda mencakup risiko politik dan force majeure. Hubungi ASEI untuk konsultasi coverage yang sesuai kondisi terkini.

  • Diversifikasi Rute Logistik

Pertimbangkan alternatif rute pengiriman yang tidak bergantung pada Selat Hormuz untuk pengiriman ke pasar Asia Timur dan Eropa.

  • Pantau Perkembangan Secara Aktif

Ikuti update risiko dari ASEI dan lembaga-lembaga terpercaya. Situasi dapat berubah cepat; keputusan bisnis perlu didasarkan pada informasi terkini.

Krisisi adalah Pelajaran Hidup Manajemen Risiko

Krisis Selat Hormuz 2026 adalah demonstrasi nyata betapa cepatnya risiko geopolitik yang tampak jauh dan abstrak dapat berubah menjadi gangguan operasional dan finansial yang konkret. Bagi ekosistem perdagangan Indonesia, ini adalah momen untuk memperkuat fondasi manajemen risiko: bukan hanya ketika badai sudah datang, tetapi jauh sebelumnya.

ASEI berkomitmen untuk terus menyediakan analisis risiko yang relevan, perlindungan yang tepat, dan pendampingan yang responsif agar pelaku ekspor-impor Indonesia dapat bergerak dengan keyakinan, bahkan di tengah ketidakpastian global.

Untuk konsultasi lebih lanjut mengenai coverage asuransi kredit ekspor dan political risk, hubungi tim ASEI terdekat atau kunjungi portal layanan kami.

Cyber Risk Insurance ASEI Raih Popular Digital Product Awards 2026 dari The Iconomics

PT Asuransi Asei Indonesia kembali menorehkan prestasi melalui produk Cyber Risk Insurance yang berhasil meraih penghargaan Popular Digital Product Awards 2026 yang diselenggarakan oleh The Iconomics. Penghargaan ini menjadi pengakuan atas inovasi dan relevansi produk ASEI dalam menjawab kebutuhan perlindungan risiko digital di tengah percepatan transformasi teknologi.

Di era digitalisasi yang masif, ancaman siber seperti peretasan data, ransomware, kebocoran informasi, hingga gangguan sistem operasional menjadi risiko nyata yang dapat berdampak signifikan terhadap reputasi dan keberlangsungan bisnis. Melalui produk Cyber Risk Insurance, ASEI menghadirkan solusi perlindungan komprehensif yang dirancang untuk membantu perusahaan memitigasi risiko finansial maupun operasional akibat insiden siber.

Cakupan perlindungan meliputi biaya pemulihan sistem, tanggung jawab hukum akibat kebocoran data, hingga dukungan penanganan krisis yang memungkinkan perusahaan tetap menjaga kepercayaan pelanggan dan mitra bisnis. Dengan pendekatan yang adaptif terhadap dinamika risiko digital, produk ini menjadi salah satu pilar penting dalam strategi penguatan portofolio asuransi berbasis teknologi.

Penghargaan ini tidak hanya merefleksikan kualitas produk, tetapi juga menegaskan komitmen ASEI dalam mendorong inovasi berkelanjutan dan pengembangan layanan yang responsif terhadap kebutuhan pasar. Sebagai perusahaan asuransi yang terus bertransformasi, ASEI memandang digitalisasi bukan sekadar tren, melainkan fondasi strategis dalam menciptakan nilai tambah bagi nasabah.

Kepercayaan dan dukungan dari mitra serta nasabah menjadi faktor utama yang mendorong ASEI untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan memperluas solusi perlindungan berbasis risiko masa depan. Pengakuan ini sekaligus menjadi motivasi untuk terus menghadirkan produk-produk inovatif yang mampu melindungi bisnis Indonesia dari berbagai risiko yang semakin kompleks.

Bersama, ASEI melangkah maju menghadirkan perlindungan yang relevan, inovatif, dan terpercaya—serta memastikan setiap bisnis dapat tumbuh dengan aman di tengah tantangan risiko siber yang terus berkembang.

ASEI dan Disperindag Jatim Perkuat Ekosistem Ekspor Melalui Sosialisasi Layanan Penunjang Ekspor

PT Asuransi Asei Indonesia bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur kembali mempertegas komitmen dalam memperkuat ekosistem ekspor nasional melalui kegiatan Sosialisasi Layanan Penunjang Ekspor yang dihadiri lebih dari 70 pelaku UMKM dan eksportir di Jawa Timur.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan literasi manajemen risiko ekspor, memperluas akses perlindungan pembiayaan, serta mendorong kesiapan pelaku usaha dalam menembus pasar global secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Peran Strategis ASEI sebagai Export Credit Agency Indonesia

Sebagai Export Credit Agency (ECA) Indonesia, ASEI menghadirkan pendampingan menyeluruh bagi eksportir, mulai dari tahap pra-pengapalan (pre-shipment) hingga pasca-pengapalan (post-shipment). Dukungan tersebut mencakup perlindungan atas risiko gagal bayar (default risk) melalui produk asuransi kredit ekspor dengan coverage hingga 85% dari nilai tagihan.

Skema perlindungan ini dirancang untuk memberikan rasa aman bagi pelaku usaha dalam melakukan ekspansi pasar, terutama pada transaksi dengan buyer luar negeri yang memiliki profil risiko berbeda-beda. Dengan mitigasi risiko yang terukur, eksportir dapat lebih percaya diri dalam menawarkan skema pembayaran kompetitif tanpa mengorbankan stabilitas arus kas perusahaan.

Melalui pendekatan hulu ke hilir, ASEI tidak hanya berperan sebagai penyedia asuransi, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam memperkuat struktur pembiayaan ekspor, meningkatkan bankability UMKM, serta mendukung keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang.

Bukti Kepercayaan Dunia Usaha

Kepercayaan terhadap layanan ASEI tercermin dari kolaborasi jangka panjang dengan PT Maspion yang telah menjadi nasabah loyal sejak tahun 1997. Selama lebih dari dua dekade, PT Maspion terus menggandeng ASEI dalam strategi pengelolaan risiko untuk memperbesar pangsa pasar ekspornya.

Kemitraan yang berkelanjutan ini menjadi bukti bahwa perlindungan asuransi yang tepat tidak hanya berfungsi sebagai mitigasi risiko, tetapi juga sebagai enabler pertumbuhan bisnis. Dengan dukungan proteksi yang komprehensif, perusahaan dapat lebih agresif melakukan penetrasi pasar global sekaligus menjaga kesehatan keuangan.

One Stop Solution Insurance untuk Eksportir Indonesia

ASEI berkomitmen menghadirkan layanan one stop solution insurance bagi para pelaku ekspor, mencakup asuransi kredit ekspor, marine cargo, hingga asuransi properti. Pendekatan terintegrasi ini memungkinkan eksportir memperoleh perlindungan menyeluruh dalam setiap rantai aktivitas perdagangan internasional.

Sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan lembaga penjaminan seperti ASEI diharapkan mampu mendorong UMKM naik kelas, memperkuat struktur ekspor nasional, serta meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.

Ke depan, ASEI akan terus memperluas kolaborasi strategis dengan berbagai pemangku kepentingan guna menciptakan ekosistem ekspor yang lebih inklusif, resilien, dan berdaya saing tinggi.

Bersama, kita dorong UMKM naik kelas dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

Satu Arah, Satu Komitmen Besar Menuju ASEI 2026

PT Asuransi Asei Indonesia telah menyelenggarakan Rapat Kerja (Raker) Tahun 2026 pada tanggal 9–11 Februari 2026 dengan mengusung tema “Accelerate Action, Beyond The Limit.” Kegiatan ini menjadi momentum strategis perusahaan dalam menyelaraskan arah kebijakan, memperkuat eksekusi strategi, serta memastikan pencapaian target kinerja tahun 2026 secara terukur dan berkelanjutan.

Raker 2026 bukan sekadar agenda tahunan, melainkan forum konsolidasi menyeluruh yang mempertemukan jajaran Direksi, Dewan Komisaris, Pemegang Saham, pimpinan kantor wilayah, hingga manajemen strategis perusahaan. Seluruh elemen organisasi hadir dengan satu semangat: bergerak lebih cepat, lebih adaptif, dan melampaui batas capaian sebelumnya.

Penyelarasan Visi dan Arah Strategis

Rangkaian kegiatan diawali dengan arahan strategis dari Direksi, Dewan Komisaris, serta Pemegang Saham yang menekankan pentingnya akselerasi transformasi bisnis, penguatan tata kelola, serta peningkatan daya saing perusahaan di tengah dinamika industri jasa keuangan. Penegasan arah kebijakan ini menjadi fondasi dalam penyusunan langkah taktis dan operasional di seluruh lini organisasi.

Agenda kemudian dilanjutkan dengan pemaparan strategi pemasaran korporasi yang menitikberatkan pada optimalisasi portofolio bisnis, perluasan pasar, serta peningkatan kualitas layanan. Kantor Regional Jakarta dan Surabaya turut menyampaikan action plan 2026 yang berorientasi pada pertumbuhan produktif, manajemen risiko yang prudent, serta penguatan hubungan dengan mitra strategis.

FGD: Fokus Penguatan Asuransi Perdagangan dan Retail

Salah satu agenda utama dalam Raker 2026 adalah pelaksanaan Forum Group Discussion (FGD) yang difokuskan pada penguatan dua pilar bisnis utama, yakni Asuransi Perdagangan dan Bisnis Retail. Diskusi berlangsung secara intens, terbuka, dan kolaboratif, dengan mengedepankan pendekatan berbasis data dan proyeksi pasar.

Melalui forum tersebut, dihasilkan sejumlah langkah konkret untuk mendukung pencapaian target 2026, antara lain optimalisasi penetrasi pasar, pengembangan produk yang lebih adaptif, percepatan proses bisnis, serta penguatan sinergi antarunit kerja. FGD ini menegaskan komitmen perusahaan untuk tidak hanya menetapkan target, tetapi juga memastikan implementasi strategi yang terukur dan berdampak nyata.

Membangun Kepemimpinan yang Transformatif

Rangkaian Raker 2026 ditutup dengan sesi Leadership Talk yang menghadirkan narasumber inspiratif guna memperkuat perspektif kepemimpinan transformatif di seluruh jajaran manajemen. Sesi ini menjadi refleksi sekaligus penguatan mindset bahwa akselerasi kinerja harus diiringi dengan ketangguhan, kolaborasi, dan keberanian untuk berinovasi.

Melampaui Batas, Mewujudkan 2026 yang Lebih Kuat

Dengan semangat kebersamaan dan komitmen yang solid, Raker 2026 menegaskan tekad seluruh insan ASEI untuk bergerak dalam satu arah dan satu tujuan besar. Tema “Accelerate Action, Beyond The Limit” bukan sekadar slogan, melainkan dorongan nyata untuk mempercepat eksekusi, meningkatkan kualitas kinerja, serta melampaui batas pencapaian sebelumnya.

Bersama, ASEI melesat menuju 2026 yang lebih kuat, lebih adaptif, dan lebih kompetitif — menghadirkan nilai tambah berkelanjutan bagi pemegang saham, mitra bisnis, dan seluruh pemangku kepentingan.

ACCELERATE ACTION, BEYOND THE LIMIT

ASEI dan BPR Universal Perkuat Sinergi melalui Kerja Sama Penyediaan Asuransi Kredit Konsumtif Multiguna

PT Asuransi Asei Indonesia secara resmi menandatangani Perjanjian Kerja Sama dengan PT Bank Perekonomian Rakyat Universal dalam sebuah seremoni yang diselenggarakan di Kantor Pusat BPR Universal. Penandatanganan ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat sinergi strategis antara kedua perusahaan, khususnya dalam menghadirkan solusi perlindungan asuransi yang terintegrasi dengan layanan pembiayaan.

Perjanjian kerja sama ini menjadi landasan kolaborasi dalam penyediaan produk Asuransi Kredit Konsumtif Multiguna bagi nasabah BPR Universal. Melalui skema tersebut, ASEI memberikan perlindungan atas risiko kredit yang mungkin timbul selama masa pembiayaan, sehingga menciptakan rasa aman bagi nasabah sekaligus memperkuat kualitas portofolio kredit BPR Universal.

Penandatanganan perjanjian dilakukan oleh Achmad Sudiyar Dalimunthe, Direktur Utama PT Asuransi Asei Indonesia, dan Reyhan Yudistira Satyahadi, Presiden Direktur PT BPR Universal. Acara ini turut disaksikan oleh Agus Sulih Purwanto, Direktur Operasional dan Pengembangan Bisnis PT Asuransi Asei Indonesia, beserta jajaran manajemen BPR Universal.

Dalam sambutannya, manajemen kedua perusahaan menegaskan bahwa kerja sama ini bukan hanya bersifat transaksional, melainkan merupakan bentuk kemitraan jangka panjang yang berorientasi pada pertumbuhan berkelanjutan. Dengan dukungan perlindungan asuransi yang komprehensif, BPR Universal dapat semakin optimal dalam menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat, khususnya segmen ritel dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Bagi ASEI, kolaborasi ini sejalan dengan komitmen perusahaan untuk memperluas akses perlindungan asuransi kredit melalui kemitraan strategis dengan lembaga keuangan daerah dan nasional. Sinergi ini diharapkan mampu mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan, sekaligus memperkuat ketahanan sektor pembiayaan di tengah dinamika ekonomi.

Ke depan, kedua perusahaan berkomitmen untuk terus mengeksplorasi peluang pengembangan produk dan layanan yang inovatif, adaptif terhadap kebutuhan pasar, serta memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan. Melalui kolaborasi ini, ASEI dan BPR Universal optimistis dapat menghadirkan kontribusi nyata dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkesinambungan.

ASEI dan BPD Papua Jalin Kerja Sama Pengembangan Asuransi Kredit Multiguna

ASEI resmi menjalin kerja sama strategis dengan Bank Pembangunan Daerah Papua (BPD Papua) yang ditandai dengan penandatanganan perjanjian kerja sama pada 21 Januari 2026 di Menara Kadin, Jakarta. Kolaborasi ini difokuskan pada pengembangan lini bisnis asuransi kredit multiguna, sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem pembiayaan yang sehat dan berkelanjutan.

Kemitraan ini menjadi langkah strategis dalam memperluas akses perlindungan risiko kredit sekaligus mendukung optimalisasi penyaluran pembiayaan kepada masyarakat. Melalui skema asuransi kredit multiguna, ASEI memberikan perlindungan atas risiko gagal bayar, sehingga BPD Papua dapat meningkatkan kualitas portofolio kredit serta memperkuat manajemen risiko secara prudent dan terukur.

Sinergi antara ASEI dan BPD Papua diharapkan mampu memberikan nilai tambah tidak hanya bagi kedua institusi, tetapi juga bagi para nasabah dan masyarakat luas. Dengan dukungan perlindungan asuransi yang andal, penyaluran kredit dapat berjalan lebih aman dan produktif, sehingga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya di wilayah Papua dan sekitarnya.

Kerja sama ini juga mencerminkan komitmen kedua belah pihak dalam membangun kolaborasi jangka panjang yang berorientasi pada keberlanjutan bisnis, tata kelola yang baik, serta peningkatan literasi dan inklusi keuangan. ASEI sebagai perusahaan asuransi yang memiliki pengalaman dalam penjaminan dan asuransi kredit, terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis lembaga keuangan dalam mengelola risiko pembiayaan.

Ke depan, ASEI dan BPD Papua berkomitmen untuk terus mengeksplorasi peluang pengembangan produk dan layanan yang adaptif terhadap kebutuhan pasar, sekaligus mendorong terciptanya ekosistem pembiayaan yang resilien, kompetitif, dan berdampak nyata bagi pembangunan ekonomi nasional maupun regional.

Tekan Rasio Klaim Asuransi Kredit, Asei Terapkan Sejumlah Strategi Ini

PT Asuransi Asei Indonesia menerapkan sejumlah strategi dalam mengelola risiko dan menekan rasio klaim asuransi kredit. Direktur Utama Asuransi Asei, Dody Dalimunthe, mengatakan strateginya adalah melakukan penguatan underwriting dengan memperketat kriteria penjaminan kredit, seperti kualitas profil debitur, histori kredit, dan jaminan. “Ditambah, menyesuaikan rate premi sesuai profil risiko,” ungkapnya kepada Kontan, Selasa (6/1/2026). Dody menyampaikan perusahaan juga melakukan pricing aktuaria yang lebih tepat dengan menggunakan model aktuaria yang lebih akurat untuk menentukan tarif premi yang mencerminkan risiko sebenarnya dari portofolio kredit. Strategi lainnya, yakni melakukan risk sharing. Dody bilang pembagian risiko dengan pemberi kredit atau lender agar tidak sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan asuransi saja atau mengacu pada POJK 20/2023. Selain itu, melakukan pencadangan teknis yang ketat sesuai dengan standar regulator dan ekspektasi klaim di masa depan. “Menetapkan batasan maksimum eksposur terhadap satu debitur atau sektor tertentu untuk menghindari konsentrasi risiko, serta diversifikasi portofolio dengan mendorong pertumbuhan produk lain yang lebih stabil untuk menyeimbangkan profil risiko keseluruhan perusahaan,” tuturnya.

Secara umum, Dody juga menyampaikan terdapat beberapa faktor yang mendorong tingginya rasio klaim asuransi kredit, yakni kualitas portofolio kredit yang diasuransikan mengalami stres karena pinjaman berisiko tinggi atau portofolio kredit memburuk. Selain itu, dipengaruhi juga dinamika kondisi ekonomi makro yang dipicu faktor eksternal, seperti pertumbuhan ekonomi yang melambat, tekanan sektor pembiayaan, atau meningkatnya kredit macet yang dapat mendorong realisasi klaim lebih tinggi. “Praktik underwriting dan pricing yang kurang memadai atau underwriting yang tidak disiplin juga dapat menyebabkan premi tidak sebanding dengan risiko yang diasumsikan,” ucapnya. Dody menambahkan, dipengaruhi juga cadangan teknis yang belum optimal, yang mana ketidakcukupan pencadangan klaim akan mendorong realisasi klaim yang lebih besar dari ekspektasi.

Terkait kinerja asuransi kredit, Dody mengatakan asuransi kredit di Asei mengalami pertumbuhan signifikan sepanjang 2025, setelah pada 2024 hampir semua bank dan lembaga pembiayaan masih menunggu karena belum sepenuhnya menyesuaikan dengan ketentuan POJK 20 tahun 2023. Dia bilang Asei berkomitmen agar tertanggung dapat menerapkan risk sharing, pemisahan risiko jiwa dan risiko kredit, serta pembatasan biaya akuisisi sesuai ketentuan. Selain itu, Asei juga menerapkan sistem monitoring pertanggungan dan penanganan klaim. Secara keseluruhan, Dody mengatakan pertumbuhan premi asuransi kredit Asei sepanjang 2025 juga diikuti dengan kenaikan rasio klaim. Adapun angka rasio klaim asuransi kredit Asei tersebut juga sejalan dengan rasio klaim di industri asuransi kredit.

“Rasio yang tinggi dipandang sebagai tekanan risiko yang signifikan, karena margin underwriting menjadi tipis dan profitabilitas berpotensi tertekan,” kata Dody. Asal tahu saja, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pendapatan premi asuransi umum dan reasuransi pada lini usaha kredit sebesar Rp 19,67 triliun, dengan klaim sebesar Rp 16,83 triliun per Oktober 2025. Dengan demikian, rasio klaim asuransi kredit berada pada level 85,56%.

ASEI Salurkan Donasi Kemanusiaan untuk Korban Bencana Alam di Sumatera Melalui BAZNAS RI

Sebagai wujud komitmen terhadap tanggung jawab sosial perusahaan dan kepedulian terhadap masyarakat terdampak bencana, ASEI menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada korban bencana alam di wilayah Sumatera melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS RI).

Program ini merupakan inisiatif kolaboratif antara komunitas internal ASEI Muda dan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) ASEI, yang secara aktif menggalang partisipasi pegawai untuk bersama-sama memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. Kegiatan penyerahan donasi dilaksanakan pada 9 Januari 2026 bertempat di Kantor Pusat ASEI – Menara Kadin Lantai 21.

Total bantuan yang disalurkan sebesar Rp115.327.883, yang berasal dari kontribusi pegawai serta penghimpunan dana melalui UPZ ASEI. Dana tersebut selanjutnya akan didistribusikan oleh BAZNAS RI kepada masyarakat terdampak untuk mendukung kebutuhan darurat, pemulihan pascabencana, serta keberlanjutan aktivitas sosial dan ekonomi warga di wilayah terdampak.

Dalam kesempatan tersebut, perwakilan BAZNAS RI menyampaikan apresiasi atas kepercayaan dan sinergi yang terjalin dengan ASEI. BAZNAS berharap kolaborasi ini tidak hanya membantu meringankan beban para penyintas, tetapi juga mempercepat proses pemulihan dan memberikan dampak yang berkelanjutan bagi masyarakat di Sumatera.

Bagi ASEI, kegiatan ini mencerminkan semangat kebersamaan dan solidaritas insan perusahaan dalam merespons situasi kemanusiaan. Melalui peran aktif komunitas internal dan UPZ, perusahaan terus mendorong budaya berbagi serta memperkuat kontribusi sosial yang selaras dengan nilai-nilai keberlanjutan perusahaan.

Ke depan, ASEI berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program tanggung jawab sosial yang adaptif, kolaboratif, dan berdampak nyata bagi masyarakat luas, khususnya dalam situasi darurat maupun pemulihan pascabencana.

Gabung Konsorsium Asuransi Kredit Fintech Lending, Asei Tengah Kembangkan Produk

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meresmikan program dukungan asuransi sebagai upaya memperkuat ekosistem dan memitigasi risiko dalam industri fintech peer to peer (P2P) lending atau pinjaman daring (pindar). Adapun dukungan yang disediakan merupakan produk asuransi kredit. Mengenai hal itu, PT Asuransi Asei Indonesia menyatakan turut menjadi anggota dari konsorsium asuransi kredit untuk fintech lending. Direktur Utama Asuransi Asei Dody Dalimunthe mengatakan Asei saat ini sedang mengembangkan produk asuransi kredit untuk industri fintech P2P lending. “Kami juga menjadi anggota dalam konsorsium asuransi yang cover risiko tersebut. Skema sedang berkembang,” katanya kepada Kontan, Selasa (6/1/2026).

Dody tak memungkiri ada juga tantangan utama dalam mengembangkan produk tersebut, termasuk moral hazard dan risiko tinggi yang memerlukan mitigasi efektif. Dia mengatakan memang industri fintech lending di Indonesia terus tumbuh secara signifikan, yang mencerminkan pangkalan pelanggan yang luas dan pertumbuhan portofolio yang potensial. Dengan demikian, bisa menjadi peluang pasar baru bagi produk asuransi kredit. Oleh karena itu, Dody menilai keterlibatan perusahaan asuransi di industri fintech lending dapat membantu mendiversifikasi portofolio premi, dibandingkan dengan lini kredit tradisional. “Ditambah, dapat juga memperluas cakupan bisnis ke segmen digital finance yang relatif baru, serta menguatkan posisi perusahaan dalam inovasi produk di tengah evolusi ekosistem keuangan digital,” tuturnya. Oleh karena itu, Dody beranggapan perlu juga dipertimbangkan profil risiko tinggi di fintech lending, terutama kecenderungan moral hazard atau peminjam sengaja tidak melunasi karena ada jaminan asuransi, serta volatilitas kredit macet yang mungkin lebih tinggi daripada kredit bank konvensional.

Untuk menyikapi risiko agar rasio klaim asuransi kredit tidak meningkat, Dody mengatakan Asei, termasuk konsorsium, perlu melakukan sejumlah upaya. Dia bilang perusahaan asuransi perlu melakukan penajaman underwriting dan risk selection dengan pengembangan model scoring risiko yang sesuai fintech lending, serta segmentasi risiko berdasarkan jenis platform dan tenor pinjaman. “Selain itu, menetapkan skema pricing yang tepat melalui tarif premi berbasis profil risiko, serta dynamic pricing dan rating risk-adjusted,” ucapnya. Dody bilang perusahaan asuransi juga perlu memitigasi moral hazard dengan membuat perjanjian kontraktual yang jelas, serta penerapan deductibles atau sharing risk dengan lender/platform. Ditambah, melakukan penguatan data dan integrasi sistem melalui integrasi data fintech dengan sistem underwriting asuransi, serta algoritma dan model prediktif yang tepat. Tak cuma itu, perusahaan asuransi juga perlu melakukan pooling risiko dan reasuransi dengan menerapkan spread of risk melalui pool atau konsorsium, serta kerja sama dengan reasuransi dalam menyusun treaty reasuransi yang mengakomodasi karakteristik risiko fintech P2P lending. Pengawasan risiko dan feedback loop juga diperlukan dengan pemantauan performa klaim secara berkala, serta melakukan evaluasi berkala terhadap skema underwriting dan pricing.

Sumber: https://share.google/LlUO4p9NpqOxn4Xo3

Townhall dan Doa Bersama Awal Tahun 2026

Jakarta, 2 Januari 2026 – Asuransi Asei menggelar Townhall dan Doa Bersama Awal Tahun 2026 yang diikuti oleh jajaran Direksi serta seluruh pegawai, baik di Kantor Pusat maupun Kantor Cabang. Kegiatan ini menjadi momentum untuk merefleksikan berbagai pencapaian dan perbaikan yang telah dilakukan perusahaan sepanjang tahun 2025, sekaligus memperkuat komitmen dan langkah perusahaan untuk menyongsong kinerja usaha yang lebih optimal di tahun 2026.

Acara ditutup dengan doa bersama sebagai wujud rasa syukur atas perjalanan yang telah dilalui, sekaligus penanda dimulainya langkah baru Asuransi Asei dalam menghadapi perjalanan dan tantangan di tahun 2026.