Asuransi di Tengah Gejolak Geopolitik

PT Asuransi Asei Indonesia (ASEI) hadir dalam program Nusantara Economic Update di Nusantara TV 30 Maret 2026, dengan mengangkat tema “Dampak Perang Timur Tengah Terhadap Industri Asuransi Umum”. Dalam kesempatan ini, Direktur Utama ASEI, Dody Dalimunthe memaparkan pandangan strategis terkait dinamika industri asuransi di tengah gejolak geopolitik.

Dinamika geopolitik global yang terus berkembang, khususnya konflik di kawasan strategis seperti Timur Tengah, memberikan dampak signifikan terhadap berbagai sektor ekonomi, termasuk industri asuransi. Ketegangan yang terjadi di jalur perdagangan utama dunia telah meningkatkan kompleksitas risiko, terutama pada sektor transportasi laut dan perdagangan internasional.

Dalam kondisi ini, industri asuransi menghadapi tantangan berupa meningkatnya potensi klaim, gangguan rantai pasok, serta fluktuasi nilai tukar yang berdampak pada transaksi lintas negara. Risiko tidak hanya terbatas pada kerusakan fisik atas kargo dan kapal, tetapi juga mencakup risiko finansial seperti keterlambatan pembayaran hingga pembatasan transfer dana di negara tujuan.

Seiring meningkatnya eksposur risiko, perusahaan asuransi melakukan penyesuaian strategi melalui kalibrasi ulang portofolio, termasuk pembatasan pada risiko tertentu seperti risiko perang serta penyesuaian premi yang lebih mencerminkan tingkat risiko aktual. Di sisi lain, upaya mitigasi juga dilakukan dengan mendorong diversifikasi jalur distribusi dan pengalihan rute perdagangan guna menghindari wilayah berisiko tinggi.

Dalam konteks perdagangan internasional, peran asuransi perdagangan menjadi semakin penting dalam memberikan perlindungan terhadap risiko gagal bayar serta ketidakpastian kondisi ekonomi dan politik global. Sebagai perusahaan asuransi yang memiliki fokus pada asuransi perdagangan, ASEI secara aktif mendukung pelaku ekspor nasional melalui penyediaan solusi proteksi yang komprehensif, sekaligus menghadirkan informasi risiko berbasis data untuk membantu pengambilan keputusan bisnis yang lebih tepat.

Industri asuransi nasional tetap memiliki peluang pertumbuhan yang besar. Tingkat penetrasi asuransi di Indonesia yang masih relatif rendah menunjukkan adanya ruang ekspansi yang signifikan, khususnya pada segmen ritel. Oleh karena itu, transformasi strategi menjadi langkah penting, termasuk dengan memperluas portofolio ke produk-produk yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat, seperti asuransi kesehatan, kendaraan, dan perlindungan individu lainnya.

Selain itu, akselerasi digitalisasi menjadi faktor kunci dalam meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas layanan. Pemanfaatan teknologi dan analitik data memungkinkan perusahaan asuransi untuk melakukan penilaian risiko secara lebih akurat, sekaligus memberikan kemudahan akses bagi nasabah dalam pembelian polis maupun pengajuan klaim.

Bagi ASEI, industri asuransi tidak hanya berperan sebagai penyedia perlindungan, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam manajemen risiko dan penggerak pertumbuhan ekonomi. Dengan strategi yang tepat serta pendekatan yang adaptif dan inovatif, ASEI optimistis dapat terus mendukung aktivitas perdagangan nasional serta memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global yang penuh tantangan.

Power Lunch Money Talks CNBC Indonesia: Prospek Bisnis di Tengah Ujian Geopolitik

PT Asuransi Asei Indonesia turut mengambil bagian dalam program Power Lunch – Money Talks CNBC Indonesia, 26 Maret 2026, dengan mengangkat tema “Prospek Bisnis di Tengah Ujian Geopolitik”. Dalam kesempatan ini, Direktur Utama Asei memaparkan pandangan strategis terkait dinamika industri asuransi umum di tengah ketidakpastian global.

Di tengah meningkatnya tensi geopolitik, industri asuransi tetap menunjukkan tren pertumbuhan yang positif. Hal ini tercermin dari peningkatan pendapatan premi baru pada sektor asuransi umum dan reasuransi komersial dalam beberapa tahun terakhir. Meski demikian, tantangan global tetap menjadi faktor yang perlu diantisipasi secara cermat.

Asei terus memperkuat posisinya sebagai spesialis dalam Asuransi Perdagangan dan juga terus mendorong pengembangan bisnis segmen ritel. Selain itu, Asei juga berkomitmen untuk menjadi risk management partner bagi nasabah, tidak hanya sebagai penyedia proteksi, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam menghadapi risiko bisnis.


Seiring dengan perkembangan teknologi, penguatan digitalisasi menjadi salah satu enabler yang terus didorong dalam upaya peningkatan kualitas layanan kepada nasabah.

Asei juga menegaskan komitmennya untuk terus adaptif, inovatif, dan berperan dalam mendukung pertumbuhan industri asuransi nasional di tengah dinamika global yang terus berkembang.

Halal Bihalal Idul Fitri 1447H : Mempererat Silaturahmi dan Kebersamaan

Dalam suasana penuh kebersamaan pasca Hari Raya Idul Fitri 1447 H, seluruh jajaran manajemen dan karyawan PT Asuransi Asei Indonesia melaksanakan kegiatan Halal Bihalal sebagai wujud mempererat silaturahmi dan memperkuat sinergi antar insan perusahaan.

Kegiatan yang berlangsung dengan hangat ini menjadi momentum untuk saling memaafkan, memperkuat hubungan kerja, serta menumbuhkan semangat baru dalam menghadapi tantangan ke depan. Dengan nuansa kekeluargaan yang kental, seluruh karyawan turut berpartisipasi dalam rangkaian acara yang sederhana namun penuh makna.


Melalui kegiatan ini, PT Asuransi Asei Indonesia berharap nilai-nilai kebersamaan, saling menghargai, dan kolaborasi dapat terus terjaga serta menjadi landasan dalam memberikan kinerja terbaik bagi perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan.


Semoga semangat Idul Fitri membawa energi positif untuk terus melangkah maju, meningkatkan profesionalisme, dan memperkuat komitmen dalam memberikan layanan terbaik.

✨ Ramadhan Reflection: Upgrade Iman, Upgrade Diri ✨

Dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadhan 1447 H, PT Asuransi Asei Indonesia menyelenggarakan rangkaian kegiatan Ramadhan ASEI 2026 yang mengusung tema “Ramadhan Reflection: Upgrade Iman, Upgrade Diri.” Kegiatan ini menjadi momentum bagi seluruh insan ASEI untuk memperkuat nilai spiritual, mempererat kebersamaan, serta menumbuhkan semangat positif di lingkungan kerja.

Rangkaian semarak Ramadhan Asei 1447 H terdiri dari beberapa kegiatan diantaranya Shalat Dzuhur berjamaah dan Kultum ramadhan serta Kring Ramadhan, Scrapbook, Ranking Wahid, Live Cooking Takjil Competition, Karaoke Religi Competition dan Photobox Best Costume Ramadhan.


Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan Buka Puasa Bersama seluruh pegawai yang dilaksanakan pada Rabu, 11 Maret 2026 di Menara Kadin Lt. 22 dengan rangkaian Sambutan Manajemen, Pembacaan Ayat Suci, pengumuman pemenang lomba, dan Tausiyah Ramadhan oleh Ust. Satria Hibatal Azizy, S.H.I., M.Ec. sebagai refleksi spiritual serta pesan-pesan inspiratif tentang makna Ramadhan, pentingnya meningkatkan kualitas iman, serta menjaga nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian di lingkungan kerja maupun kehidupan sehari-hari.

Momen ini menjadi kebersamaan bagi seluruh insan ASEI untuk mempererat silaturahmi, membangun hubungan yang lebih hangat antar karyawan, serta memperkuat rasa kekeluargaan di lingkungan perusahaan.


Diharapkan semangat Ramadhan dapat menjadi inspirasi bagi seluruh insan ASEI untuk terus meningkatkan kualitas diri, memperkuat nilai kebersamaan, serta menghadirkan energi positif dalam menjalankan peran dan tanggung jawab profesional.

Semoga keberkahan Ramadhan senantiasa menyertai langkah kita semua.

ASEI Dorong Mitigasi Risiko Ekspor Melalui Edukasi Asuransi dalam Forum “Bersapa Ekspor” di Bandung

Bandung, 5 Maret 2026 – PT Asuransi ASEI Indonesia (ASEI) berpartisipasi sebagai narasumber dalam kegiatan “Bersapa Ekspor” (Berdialog Seputar Pembiayaan Ekspor) yang diselenggarakan oleh Direktorat Fasilitasi Ekspor dan Impor, Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia di Aston Tropicana Hotel Bandung, Kamis (5/3)

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mendorong peningkatan ekspor nasional, khususnya bagi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) berorientasi ekspor. Forum ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), PT Asuransi ASEI Indonesia, pemerintah daerah, serta para pelaku usaha eksportir

Dalam kesempatan tersebut, ASEI menyampaikan materi mengenai pemanfaatan asuransi ekspor sebagai instrumen mitigasi risiko dalam kegiatan perdagangan internasional. Melalui perlindungan asuransi ekspor, pelaku usaha dapat mengantisipasi berbagai risiko, seperti gagal bayar dari pembeli luar negeri, risiko negara, maupun ketidakpastian dalam transaksi perdagangan internasional.

ASEI menegaskan bahwa keberadaan asuransi ekspor menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberlanjutan aktivitas ekspor. Dengan perlindungan yang tepat, eksportir dapat menjalankan transaksi perdagangan dengan lebih aman dan percaya diri, sekaligus memperluas jangkauan pasar ke berbagai negara tujuan ekspor.

ASEI menegaskan bahwa keberadaan asuransi ekspor menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberlanjutan aktivitas ekspor. Dengan perlindungan yang tepat, eksportir dapat menjalankan transaksi perdagangan dengan lebih aman dan percaya diri, sekaligus memperluas jangkauan pasar ke berbagai negara tujuan ekspor.

Forum “Bersapa Ekspor” juga menjadi ruang dialog antara pelaku usaha dengan lembaga pembiayaan dan institusi pendukung ekspor. Selain pembahasan mengenai asuransi ekspor, kegiatan ini juga memaparkan berbagai skema pembiayaan ekspor melalui Program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) serta peluang akses pasar internasional, termasuk pasar Vietnam.

ASEI menyambut baik penyelenggaraan forum ini sebagai bagian dari sinergi antara pemerintah, lembaga pembiayaan, dan industri asuransi dalam memperkuat ekosistem ekspor nasional. Ke depan, ASEI akan terus berperan aktif dalam memberikan solusi perlindungan risiko bagi para eksportir Indonesia agar mampu menjalankan kegiatan perdagangan internasional secara berkelanjutan dan berdaya saing.

ASEI Dukung Ekspansi Ekspor ke Pasar India

Jakarta, 12 Maret 2026 — ASEI menjadi salah satu pemateri dalam webinar bertajuk “Potensi Pasar Produk Indonesia dan Spesifik Produk Rempah-Rempah (Spices) di India” yang digelar oleh Export Center Surabaya (ECS) pada hari Kamis (12/03).

Acara ini dibuka dengan sambutan dan laporan Kepala Pengelola ECS Toto Dirgantoro mengenai perkembangan perdagangan saat ini, lalu dilanjutkan dengan sambutan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur yang diwakili oleh Lucky Kristian selaku Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan Luar Negeri (PPLN) Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur. Kemudian secara resmi acara dibuka oleh Direktur P2IE Kemendag RI Bayu Wicaksono serta dilanjutkan dengan pemaparan potensi market India atas produk rempah-rempah Indonesia oleh Atase Perdagangan India Mohamad Iqbal Jamil. Pada acara ini juga dibedah tantangan dan peluang memasuki market India baik secara demografi ataupun secara budaya.

Sinergi dalam rangka menumbuhkan ekspor Indonesia untuk memasuki market India juga diberikan pengarahan oleh Badan Karantina Tumbuhan BKHIT Provinsi Jawa Timur untuk memberikan gambaran agar para pelaku eksportir nantinya tidak mengalami kendala dalam menyiapkan berbagai keperluan dokumen ekspornya.

Pada kesempatan ini PT Asuransi Asei Indonesia (ASEI) ikut memperkuat dan berkomitmen penuh untuk menyediakan solusi lengkap yang tidak hanya dari sisi proteksi kepada eksportir tetapi juga pendampingan dari hulu ke hilir atas proses ekspor dan segala risiko yang berpotensi terjadi. Tentunya upaya ini dirancang untuk membantu pelaku ekspor khususnya untuk market India, mengatasi tantangan / keraguan dalam upaya transaksi ekspor.

Sinergi ECS dengan ASEI kali ini bertujuan untuk memberikan guidance perlindungan asuransi tagihan ekspor bagi eksportir maupun calon eksportir yang berorientasi ekspor dalam menghadapi risiko gagal bayar dengan menanggung hingga 85% coverage, ujar Achmad Nurkhozin selaku Kepala Regional II Asuransi Asei. Acara ini diikuti oleh lebih dari 100 calon eksportir dan eksportir dari berbagai daerah di Provinsi Jawa Timur.

Kepala Regional II Asuransi Asei Achmad Nurkhozin menjelaskan “sinergi ECS dengan ASEI ini diharapkan dapat memberikan rasa aman bagi eksportir dan meningkatkan kepercayaan diri dalam mengembangkan produk serta memberikan perlindungan yang lebih baik bagi eksportir Indonesia sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekspor nasional dan memperkuat posisi Indonesia di pasar global.”
Sebagai Export Credit Agency (ECA) Indonesia, Asuransi Asei siap mendampingi para eksportir sejak pencarian informasi kredibilitas buyer dimana ASEI tergabung dalam Asosiasi Internasional Berne Union, Aman Union dsb. Diharapkan kerjasama ini dapat membawa ketenangan dalam pelaku ekspor dan memastikan keberlanjutan bisnis yang terus bertumbuh.

“ASEI berkomitmen tegas sebagai one stop solution insurance yang menyediakan layanan penunjang lain seperti asuransi marine cargo, asuransi properti dan juga asuransi kredit. Sinergi ini juga merupakan bentuk nyata dukungan Pemerintah khususnya Pemerintah Daerah Jawa Timur dalam membuka peluang baru, meningkatkan daya saing produk serta ekosistem ekspor Indonesia.” Ujar Nurkhozin.

Selat Hormuz di Tengah Badai:Apa Artinya bagi Eksportir Indonesia?

Konflik Iran israel AS yang belum pernah terjadi sebelumnya telah menjadikan Selat Hormuz sebagai titik ziarah risiko dunia. Bagi eksportir dan importir Indonesia, ini bukan sekadar berita ini adalah alarm manajemen risiko.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer berskala besar dan berkelanjutan terhadap Iran  menargetkan infrastruktur militer, fasilitas intelijen, hingga lokasi kepemimpinan senior. Iran merespons dengan serangan rudal dan drone ke Israel dan posisi-posisi AS di beberapa negara tetangga, termasuk pelabuhan, bandara, dan infrastruktur sipil kawasan Teluk.

Di tengah eskalasi ini, satu nama muncul sebagai variabel paling kritis dalam rantai pasok energi global: Selat Hormuz. Bagi Indonesia  sebagai negara yang bergantung pada impor minyak dan memiliki basis ekspor komoditas yang aktif ke kawasan Asia dan Timur Tengah perkembangan ini memiliki implikasi nyata yang perlu dipahami secara serius.

Mengapa Selat Hormuz adalah Jantung Krisis ini ?

Selat Hormuz bukan sekadar jalur air sempit di antara Iran dan Semenanjung Arab. Ia adalah koridor energi terpenting di muka bumi  sekitar 20% pasokan minyak dunia dan 30% LNG global mengalir setiap harinya melalui perairan selebar 33–60 kilometer itu. Ketika pejabat Iran secara terbuka menyatakan bahwa Selat telah ditutup dan mengancam akan menyerang kapal yang melintas, perusahaan pelayaran dan energi besar pun menghentikan operasi secara sepihak  menciptakan penutupan efektif yang langsung mengguncang pasar energi global.

Dampak langsung sudah dirasakan: ruang udara kawasan Teluk dibatasi, penerbangan dialihkan, dan transit maritim melambat. Bagi rantai pasok yang mengandalkan sistem just-in-time  terutama elektronik dan komponen otomotif  perubahan ini berarti waktu transit lebih lama, biaya lebih tinggi, dan tekanan modal kerja yang signifikan.

Dua Skenario yang perlu diantisipasi Berdasarkan analisis Atradius yang kami rujuk dan kontekstualisasikan untuk kepentingan pelaku usaha Indonesia, terdapat dua skenario utama yang membentuk lanskap risiko ke depan:

Skenario Dasar:

Konfklik Singkat, Resolusi Bertahap

  • Konflik berlangsung beberapa hari hingga beberapa minggu
  • Harga minyak menyentuh $80–$90/barel
  • Dampak pada ekonomi Teluk terbatas (~0,5% poin pertumbuhan)
  • Kembali ke jalur diplomatik dan negosiasi nuklir
  • Dampak ekonomi global relatif terkendali

Skenario Terburuk:

Eskalasi berkepanjangan dan Destruktif

  • Serangan milisi proksi meluas ke fasilitas energi Teluk
  • Harga minyak melonjak ke $130–$140/barel
  • Bahrain menghadapi tekanan fiskal akut pertama
  • Tiongkok dan India — pembeli energi terbesar — terdampak langsung
  • Gangguan rantai pasok global yang persisten

Siapa yang paling Rentan

Tingkat kerentanan terhadap krisis Hormuz bervariasi signifikan berdasarkan struktur ekonomi dan ketergantungan energi masing-masing negara. Berikut peta singkat paparan risiko yang relevan bagi eksportir dan importir Indonesia:

Dampak Nyata bagi Industri Asuransi Perdagangan

Krisis Selat Hormuz bukan hanya fenomena geopolitik  ini adalah peristiwa risiko yang langsung menyentuh portofolio asuransi kredit ekspor dan asuransi perdagangan. Berikut dimensi-dimensi utama yang perlu mendapat perhatian:

  • Risiko Kredit Ekspor Meningkat Buyer di kawasan Teluk dan Asia yang bergantung pada energi menghadapi tekanan likuiditas dari kenaikan biaya impor energi. Kapasitas pembayaran mereka bisa tergerus, terutama jika konflik berlanjut melampaui beberapa minggu.
  • Klaim Keterlambatan & Force Majeure Gangguan pada jalur pelayaran dan penutupan ruang udara membuka potensi klaim berbasis force majeure pada kontrak perdagangan. Eksportir perlu memeriksa klausul force majeure dalam polis mereka.
  • Lonjakan Premi Marine & War Risk Underwriter asuransi marine global kemungkinan besar akan merevisi tarif premi untuk rute Teluk dan Samudra Hindia bagian barat. Ini langsung mempengaruhi biaya logistik eksportir yang menggunakan asuransi pengiriman.
  • Repricing Risiko Negara Rating risiko negara untuk Iran, Bahrain, Qatar, dan negara-negara tetangga kemungkinan akan direvisi. Hal ini mempengaruhi syarat dan kondisi pemberian cover asuransi kredit ekspor ke negara-negara tersebut. Pentingnya Political Risk Cover Kejadian ini menjadi pengingat keras bahwa risiko politik yang sering diabaikan dalam kondisi normal  bisa terwujud cepat dan masif. Political risk insurance bukan lagi produk “berjaga-jaga”; ini adalah kebutuhan strategis bagi eksportir yang aktif di kawasan volatil.

Apa yang harus dilakukan eksportir indonesia sekarang ?

ASEI merekomendasikan langkah-langkah antisipatif berikut bagi pelaku usaha yang memiliki eksposur terhadap kawasan Timur Tengah dan mitra dagang di Asia yang bergantung pada energi Teluk:

  • Review Portopolio Buyer

Identifikasi buyer yang berlokasi di atau sangat bergantung pada kawasan Teluk. Evaluasi ulang batas kredit dan persyaratan pembayaran untuk mereka.

  • Periksa Klausula Polis Anda

Pastikan polis asuransi perdagangan Anda mencakup risiko politik dan force majeure. Hubungi ASEI untuk konsultasi coverage yang sesuai kondisi terkini.

  • Diversifikasi Rute Logistik

Pertimbangkan alternatif rute pengiriman yang tidak bergantung pada Selat Hormuz untuk pengiriman ke pasar Asia Timur dan Eropa.

  • Pantau Perkembangan Secara Aktif

Ikuti update risiko dari ASEI dan lembaga-lembaga terpercaya. Situasi dapat berubah cepat; keputusan bisnis perlu didasarkan pada informasi terkini.

Krisisi adalah Pelajaran Hidup Manajemen Risiko

Krisis Selat Hormuz 2026 adalah demonstrasi nyata betapa cepatnya risiko geopolitik yang tampak jauh dan abstrak dapat berubah menjadi gangguan operasional dan finansial yang konkret. Bagi ekosistem perdagangan Indonesia, ini adalah momen untuk memperkuat fondasi manajemen risiko: bukan hanya ketika badai sudah datang, tetapi jauh sebelumnya.

ASEI berkomitmen untuk terus menyediakan analisis risiko yang relevan, perlindungan yang tepat, dan pendampingan yang responsif agar pelaku ekspor-impor Indonesia dapat bergerak dengan keyakinan, bahkan di tengah ketidakpastian global.

Untuk konsultasi lebih lanjut mengenai coverage asuransi kredit ekspor dan political risk, hubungi tim ASEI terdekat atau kunjungi portal layanan kami.