





Jakarta, 28 Juli 2026 – PT Asuransi ASEI Indonesia (ASEI) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan daya saing ekspor nasional melalui edukasi mengenai mitigasi risiko perdagangan internasional. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan Bersapa Ekspor yang diselenggarakan oleh Direktorat Fasilitasi Ekspor dan Impor, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, dengan menghadirkan narasumber dari berbagai institusi yang berperan dalam ekosistem ekspor nasional, yaitu Agnes Rahadian, National Interest Account Department Head Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI/Indonesia Eximbank), yang memaparkan dukungan pembiayaan ekspor bagi pelaku usaha, serta Kartika Sari, Ketua Tim Kerja Fasilitasi Perdagangan Direktorat Fasilitasi Ekspor dan Impor Kementerian Perdagangan RI, yang menjelaskan berbagai program fasilitasi perdagangan untuk meningkatkan daya saing ekspor Indonesia. Sementara itu, Mutia Safitri, Kepala Bagian Pemasaran Asuransi Perdagangan PT Asuransi ASEI Indonesia, menyampaikan pentingnya mitigasi risiko perdagangan internasional melalui pemanfaatan Trade Credit Insurance.
Dalam paparannya, Mutia menjelaskan bahwa aktivitas perdagangan internasional memiliki tingkat risiko yang lebih kompleks dibandingkan perdagangan domestik. Di tengah dinamika geopolitik global, kebijakan tarif, hingga konflik antarnegara yang memengaruhi stabilitas perdagangan, eksportir dituntut untuk memiliki strategi mitigasi risiko yang tepat agar kegiatan bisnis tetap berjalan secara berkelanjutan.
Sebagai Export Credit Agency (ECA) Indonesia, ASEI berperan memberikan perlindungan terhadap risiko perdagangan melalui berbagai solusi asuransi yang dirancang untuk mendukung pelaku ekspor, khususnya sektor nonmigas. Bersama Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), ASEI menjadi bagian dari ekosistem pemerintah dalam memperkuat ketahanan ekspor nasional melalui pembiayaan dan mitigasi risiko.
ASEI mengidentifikasi sedikitnya lima kelompok risiko utama yang dihadapi eksportir, yakni risiko finansial, logistik, regulasi, politik, dan digital. Masing-masing risiko memerlukan pendekatan mitigasi yang berbeda, mulai dari pemilihan metode pembayaran yang lebih aman, pengelolaan risiko nilai tukar, penggunaan cargo insurance, hingga pemanfaatan Trade Credit Insurance (TCI) sebagai perlindungan terhadap risiko gagal bayar dari pembeli di luar negeri.
Menurut Mutia, risiko gagal bayar merupakan salah satu tantangan terbesar dalam transaksi ekspor. Melalui Trade Credit Insurance, eksportir memperoleh perlindungan atas piutang dagang apabila pembeli tidak mampu memenuhi kewajibannya, baik karena risiko komersial maupun risiko politik. Kehadiran perlindungan ini diharapkan dapat menjaga arus kas perusahaan sehingga pelaku usaha dapat terus mengembangkan pasar ekspornya dengan lebih percaya diri.
Selain memberikan perlindungan risiko, ASEI juga mendorong para pelaku usaha, khususnya UMKM, untuk aktif mengikuti program pendampingan dan pelatihan ekspor. Langkah tersebut dinilai penting agar eksportir memahami setiap tahapan perdagangan internasional secara komprehensif dan mampu meminimalkan potensi kendala dalam proses ekspor.
Dalam kesempatan tersebut, ASEI juga memperkenalkan berbagai solusi perlindungan yang dimiliki, meliputi Export Credit Insurance, Export Bill Insurance, Domestic Credit Insurance, serta Domestic Credit Insurance Financing. Keempat produk tersebut dirancang untuk mendukung kebutuhan perlindungan risiko baik pada transaksi perdagangan internasional maupun domestik.
Sebagai perusahaan yang telah berdiri sejak tahun 1985, ASEI terus memperkuat kapabilitasnya melalui keanggotaan dalam berbagai organisasi internasional, seperti Berne Union, AMAN Union, serta forum Head of Export Credit Agency (ECA) BRICS, guna memperluas jaringan kerja sama dan meningkatkan kualitas layanan bagi eksportir Indonesia. Melalui kegiatan edukasi seperti Bersapa Ekspor, ASEI berharap semakin banyak pelaku usaha memahami pentingnya manajemen risiko dalam perdagangan internasional. Dengan perlindungan yang tepat, eksportir Indonesia diharapkan mampu memperluas pasar global secara lebih aman, berkelanjutan, dan berdaya saing, sekaligus mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan kinerja ekspor.
Batam, 14 Juli 2026 – PT Asuransi Asei Indonesia (ASEI) turut berpartisipasi sebagai narasumber dalam Batam Global Trade Forum 2026 yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri bertempat di Aston Batam Hotel & Residence.
Mengusung tema “Resilient Growth 2026: Navigating Global Turbulence & Future Proofing Your Business in a Volatile World”, forum ini menjadi wadah strategis bagi para pelaku usaha, eksportir, regulator, serta pemangku kepentingan untuk membahas berbagai tantangan dan peluang bisnis di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompleks.
Acara menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai institusi, di antaranya Dendi Ramdani-Head of Industry & Regional Research, Office of Chief Economist Bank Mandiri, Rony Widijarto – Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kepulauan Riau, Wahyu Eka Putra – Kepala Kantor Imigrasi Batam, dan Agus Sulih Purwanto – Director Operational & Business Development ASEI.
Dalam kesempatan tersebut, Agus Sulih Purwanto, menyampaikan pentingnya penerapan manajemen risiko sebagai fondasi utama bagi perusahaan dalam menjaga keberlangsungan usaha, khususnya bagi pelaku bisnis yang bergerak di sektor perdagangan internasional.
Menurutnya, kondisi geopolitik, perlambatan ekonomi global, fluktuasi nilai tukar, hingga meningkatnya risiko gagal bayar menjadi tantangan nyata yang perlu diantisipasi melalui strategi mitigasi risiko yang tepat.
Sebagai Export Credit Agency (ECA) Indonesia, ASEI terus berkomitmen mendukung pertumbuhan perdagangan nasional melalui berbagai solusi perlindungan risiko perdagangan, pembiayaan, dan penjaminan yang membantu meningkatkan kepercayaan pelaku usaha dalam memperluas pasar, baik domestik maupun internasional.
Partisipasi ASEI dalam forum ini merupakan bagian dari upaya perusahaan untuk memperkuat sinergi dengan sektor perbankan, regulator, dan komunitas bisnis dalam menciptakan ekosistem perdagangan yang lebih sehat, aman, dan kompetitif. Melalui forum ini, diharapkan para pelaku usaha memperoleh wawasan mengenai perkembangan ekonomi global, kebijakan perdagangan, serta strategi adaptif dalam menghadapi tantangan bisnis di masa mendatang sehingga mampu menciptakan pertumbuhan usaha yang berkelanjutan.
In House Training (IHT) Sharing Session: Manajemen Piutang untuk Asuransi Perdagangan dilakukan melalui Daring pada Kamis, 9 Juli 2026. Dalam kegiatan ini peserta peserta dapat memperdalam pemahaman tentang pengelolaan piutang sebagai langkah mitigasi risiko Asuransi Perdagangan. Sejalan dengan PSAK/IFRS, piutang dagang merupakan aset keuangan yang terpapar risiko kerugian kredit (Expected Credit Loss/ECL), sehingga perlindungan terhadap piutang usaha menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas aset, memperkuat ketahanan keuangan, dan mendukung keberlanjutan bisnis jangka panjang.
Melalui sesi ini, peserta mendapatkan pemahaman mendalam mengenai berbagai critical points dalam proses penutupan Asuransi Perdagangan, mulai dari proses pemasaran dan penjualan, underwriting serta analisis buyer/issuing bank, reasuransi, hingga penanganan klaim dan subrogasi.
Program ini terus dilakukan sebagai wujud komitmen Asei untuk memberikan layanan yang profesional, terukur, dan berorientasi pada mitigasi risiko.